Saturday, April 25, 2015

Jika Engkau Berharap Berjumpa Dengan-Nya

Jika Engkau Berharap Berjumpa Dengan-Nya

Segala puji hanyalah milik Allāh subḥānahu wa ta’ālā semata. Ṣalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi yang tiada lagi nabi sesudahnya, dan juga kepada keluarga dan shahabat beliau, serta orang-orang yang menempuh jalan yang mereka tempuh hingga hari akhir kelak.
Allāh subḥānahu wa ta’ālā berfirman,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya, hendaklah dia beramal shalih dan janganlah menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun dalam beribadah kepada-Nya
(QS. Al Kahfi : 110)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin raḥimahullāh mengatakan,
“Apakah engkau ingin berjumpa dengan Allāh, dan hatimu dipenuhi harapan (untuk berjumpa dengan-Nya)?
Jika memang demikian,
فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“hendaklah beramal shalih dan janganlah menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun dalam beribadah kepada-Nya”
 (Tafsir Surat Al Kahfi, hal. 152)
Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di raḥimahullāh menjelaskan,
(Yang dimaksud amalan shalih adalah) amalan yang sesuai dengan syari’at Allāh, baik yang wajib maupun sunnah.
Firman Allāh (yang artinya) : “dan janganlah menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun dalam beribadah kepada-Nya”
Maksudnya adalah : Janganlah melakukan riya’ dengan amalannya tersebut. Tetapi haruslah beramal karena ikhlash mengharap wajah Allāh Ta’ālā.
Maka orang yang menggabungkan dua perkara ini, yakni ikhlash dan mutaba’ah (sesuai petunjuk Nabi), maka dialah yang akan mendapatkan apa yang dia harapkan dan apa yang dia cari (yakni berjumpa dengan Rabb-nya). Adapun orang yang tidak demikian, maka sesungguhnya dia adalah orang yang merugi di dunianya dan di akhiratnya. Dan sungguh dia telah kehilangan kedekatan dengan Pelindung-nya dan tidak mendapat ridho-Nya” (Taisir Karimir Rahman, hal. 462)
Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullāh mengatakan,
 “Inilah dua syarat diterimanya amalan. Maka setiap amalan yang dikerjakan haruslah ikhlash karena Allāh  dan mencocoki syari’at Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam”.
(Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah Syamilah)
Oleh karena itulah sahabat muslim yang dimuliakan Allāh, jika kita adalah orang-orang yang mengharapkan perjumpaan yang baik dengan Allāh ta’ālā, hendaknya kita beramal shalih, yakni dengan memurnikan niat kita beramal, berusaha ikhlash hanya mengharap wajah Allāh, dan beramal sesuai tuntunan dari Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Inilah amalan shalih. Dan inilah sebaik-baik amalan. Allah Subhānahu wa Ta’ālā berfirman,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“(Dia-lah) Yang Menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa yang paling baik amalnya diantara kalian” (QS. Al Mulk : 2)
Al Fudhoil bin ‘Iyadh rahimahullāh mengatakan,
“Yang dimaksud dengan amalan yang terbaik adalah yang paling ikhlash dan paling benar. Karena sesungguhnya amalan jika ikhlash tapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal tersebut benar tapi tidak ikhlash, juga tidak diterima sampai amal tersebut ikhlash dan benar.
Ikhlash adalah amalan tersebut karena Allāh. Dan benarnya amalan adalah jika sesuai dengan sunnah.
Maka amal shalih haruslah yang diinginkan dengannya adalah wajah Allāh Ta’ālā karena Allāh Ta’ālā tidaklah menerima amalan kecuali jika yang diinginkan adalah wajah-Nya semata”
(Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar, hal. 27)
Sahabat muslim, ikhlash dan mutaba’ah. Itulah pelajaran yang dapat kita petik dari penjelasan para ulama terhadap tafsir ayat terakhir surat Al Kahfi. Maka hendaknya kita berusaha memurniakan niat kita, dan selalu melawan keinginan untuk berbuat riya’. Memang benar, ikhlash itu sangat sulit. Sampai-sampai ulama salaf kesohor, Al Imam Sufyan Ats Tsauri rahimahullāh berujar,
ما عالجت شيئا أشد عليّ من نيّتي
“Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih sulit daripada niatku”
(Lihat Tadzkiratus Saami’ wal Mutakallim hal. 68 karya Ibnu Jama’ah, dinukil dari Ma’alim fii Thariqi Thalabil ‘Ilmi hal. 17)
Akan tetapi ingatlah firman Allah Ta’ālā,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami”
(QS. Al ‘Ankabut : 69)
Maka, barangsiapa yang berusaha sekuat tenaga untuk mengikhlashkan setiap amalannya karena Allah Ta’ālā, Allāh akan menganugerahinya keikhlashan dalam amalannya.
Dan hendaknya kita berusaha untuk mencocoki setiap amalan kita agar sesuai dengan petunjuk Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Maka syarat diterimanya amal yang kedua ini tidak akan tercapai jika kita tidak mempelajari Al Qur’an dan As Sunnah. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengetahui bagaimana Nabi beramal jika tidak mau belajar?? Oleh karena itu, Nabi bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim”
(HR. Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Syaikh Al AlbaniSunan Ibni Majah via Maktabah Syamilah)
Demikianlah keadaan orang-orang yang mengharapkan perjumpaan yang baik dengan Rabb-nya kelak. Mereka beramal shalih, amalan yang sesuai dengan petunjuk Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan mereka ikhlash dalam beramal dan tidak menyekutukan Allah Ta’ālā dalam setiap amalan yang mereka lakukan.
Akan kami tutup pembahasan ini dengan do’a yang sangat indah yang hendaknya setiap kita menghafalnya, yang diajarkan oleh Amirul Mukminin ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu,
اللّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِي كُلَّهُ صَالِحًا، وَاجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصًا، وَلَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيْهِ شَيْئًا
Ya Allāh, jadikanlah amalku seluruhnya adalah amal yang shalih, dan jadikanlah amalku tersebut ikhlash karena wajah-Mu, dan janganlah Engkau berikan sedikitpun bagian untuk orang lain dalam amalku tersebut
(Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar, hal. 28)
Wallāhu a’lam.
artikel: www.pemudamuslim.com
—–
* sumber ilustrasi gambar: http://ht.ly/e3KR2