Thursday, March 5, 2015

Hukum Hormat Bendera


Dari Jabir bin Abdillah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memberikan penghormatan ala Yahudi. Sesungguhnya penghormatan ala Yahudi adalah dengan isyarat dengan kepala dan telapak tangan” (HR Nasai dalam ‘Amal al Yaum wa al Lailah no 340. Abu Ya’la dan Thabrani dalam al Ausath. Dalam Fathul Bari 11/12 al Hafiz Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanadnya adalah berkualitas jayyid. Hadits di atas juga dinilai hasan oleh al Albani dalam Silsilah Shahihah no 1783).

Diriwayatkan oleh Tirmidzi no 695 dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah bagian dari kaum muslimin orang-orang yang menyerupai orang-orang kafir. Janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi ataupun Nasrani. Sesungguhnya penghormatan ala Yahudi adalah isyarat dengan jari jemari sedangkan penghormatan ala Nasrani adalah isyarat dengan telapak tangan”. Hadits ini dinilai hasan oleh al Albani dalam Sahih Sunan Tirmidzi.

Adapun mencium Ka'bah dicontohkan oleh Rasulullah. Adapun bendera, Rasulullah dan para sahabatnya tdk pernah hormat mengangkat tangan kpdnya padahal bendera sudah ada di zaman Rasulullah. 

Upacara bendera ini merupakan suatu tata cara/ritual yang diadopsi dari para penjajah Jepang, Belanda, dsb yang notabene mereka dahulu mempunyai kepercayaan menyembah berhala (politheisme) yang bukan agama tauhid. Sungguh aneh jika seorang muslim malah mengambil teladan kpd orang-orang kafir bukan kpd Rasulullah dan para sahabat.

Dari Abu Sa'id (al-Khudry) bahwasanya Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh kalian akan mengikuti sunnah (cara/metode) orang-orang sebelum kamu, sejengkal-demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga andaikata mereka menelusuri lubang masuk ‘Dlobb' (binatang khusus padang sahara, sejenis biawak-red), niscaya kalian akan menelusurinya pula".[Kami (para shahabat) berkata: "Wahai Rasulullah! (mereka itu) orang-orang Yahudi dan Nashrani?". Beliau bersabda: "Siapa lagi (kalau bukan mereka-red)". (H.R.al-Bukhary, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah)
Rasulullah dan para sahabat mengajak taat kepada pemimpin baik pemimpin yang adil maupun dzolim. Tetapi jika pemimpin menyuruh untuk berbuat maksiat maka tidah boleh kita patuhi dan kita harus bersabar dan tidak boleh memberontak. Sungguh, fitnah-fitnah (cobaan) seperti ini telah menimpa sejak generasi salafus sholeh dahulu. Mereka para salaf kita bersabar kpd pemimpin yang dzolim dan tidak melakukan pemberontakan. Misalnya saja, fitnah yang terjadi kpd guru dari Imam Bukhori dan Muslim yaitu Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Mazhab murid Imam Syafi’i) tatkala diuji oleh pemimpin dan ulama yang ada di sampingnya (di samping pemimpin) untuk mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluk. Maka Imam Ahmad tidak mau mengikuti perintah mereka dan tetap mengatakan bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah bukan makhluk. Imam Ahmad kemudian dihukum penjara dan disiksa sampai 3 masa kekholifahan. Imam Ahmad tetap bersabar dan selalu mendoakan kebaikan kpd pemimpin. Imam Ahmad tidak mau memberontak karena itulah sunnah Rasulullah untuk taat kpd pemimpin dan bersabar thd pemimpin yang dzolim serta mendoakan kebaikan kpd pemimpin. Hanya saja Imam Ahmad tdk menuruti perintah pemimpin utk mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluk karena Rasulullah bersabda: Tidak ada ketaatan kpd makhluk dalam hal bermaksiat kpd Allah.

Contoh lain yaitu Imam Syafi’i jg ditangkap dan disiksa oleh pemimpin, begitu pula Imam Malik dan juga tabi’in Said bin Musayyab. Dan masih banyak lagi.

Sungguh, fitnah-fitnah semisal spt itu akan tetap ada sampai sekarang menjelang hari kiamat. Sungguh berbahagialah orang-orang yang tetap memegang teguh agamanya di kala orang-orang telah rusak.