Sunday, May 1, 2016

Tahan Air Matamu wahai Ahlussunnah itu belum seberapa

Abdullah Al Pinrany
Bismillah Assalamu Alaikum
كَفْكَفْ دُمُوعَكَ فَالطَّرِيقُ طَوِيلُ ... لَا تَتْرُكِ الدَّمْعَ الْعَزِيزَ يَسِيلُ
فِي أَوَّلِ الدَّرْبِ الطَّوِيلِ تَحَسَّرٌ ... مَاذَا عَسَاكَ -إِنِ ابْتُلِيتَ- تَقُولُ
يَاأَيُّهَا السُّنِّي لَا تَجْزَعْ إِذَا ... شَحَّ الْوُجُودُ وَهَاجَمَتْكَ فُلُولُ
وَاعْلَمْ بِأَنَّ اللّٰهَ نَاصِرُ عَبْدَهُ ... وَلَهُ مَقَالِيدُ الْأُمُورِ تَؤُولُ
Tahan! Tahan air matamu karena jalan masih panjang...
Jangan kau biarkan air mata mulia mengalir...
Diawal jalan, memang terasa berat. Hatimu bergumam, "apa yang akan terjadi padaku"
Wahai Sunni, jangan bimbang apabila...
Sedikit penolong dan ujian datang silih berganti.
Ketahuilah, Allah kan senantiasa menolong hamba-Nya... Dan kunci segala urusan kepada-Nya kembali...
________o00o________
Malam yang senyap, tak ada suara kecuali desiran angin meniup debu-debu pasir. Atau, menyiul dari tiupan mulut para prajurit yang terlelap.
Di waktu ini, al Imam Ahmad bin Hanbal gelisah. Matanya tak bisa terpejam. Hatinya bergolak hebat. Apa yang harus dia lakukan saat berdiri di hadapan al-Ma'mun nanti.
Dia mendapat kabar bahwa al-Ma'mun dengan geram berujar, "Jika nanti aku benar melihatnya, aku cabik-cabik tubuhnya"
Memang al-Ma'mun benar-benar murka kepadanya. Dia bergeming dari ajakan al-Ma'mun: al-Qur'an adalah makhluk. 
Dia yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa al-Qur'an Kalamullah, bukan makhluk. Segala cara dilakukan al-Ma'mun agar ia mau mengatakan al-Qur'an makhluk.
Namun Ahmad tetap tak mau. Dan sekarang ini, dia dan kawan seperjuangan satu-satunya, Muhammad bin Nuh, dibelenggu dan dibawa munuju kemarahan al-Ma'mun.
Dalam gejolak batinnya malam itu, sempat terbesit untuk menyerah saja menerima ajakan al-Ma'mun. Toh juga terpaksa. Bukankah Allah mengampuni orang yang terpaksa berbuat dosa.

Namun tiba-tiba bayangan hitam samar muncul dari kejauhan. Lama-kelamaan semakin mendekat dan jelas.Ternyata adalah seorang Arab Badui.

"Engkaukah Ahmad bin Hanbal❓" tanyanya.
"Iya," jawab Ahmad
"Bergembiralah dan tetaplah bersabar Karena itu hanya tebasan yang engkau rasakan di dunia ini. Dan engkau akan masuk surga dari tebasan itu," Badui membesar-besarkan hatinya.
"Cintakah engkau kepada Allah" Lanjut Badui.
"Tentu," jawab Ahmad.
"Jika engkau mencintai Allah, tentu engkau ingin segera bertemu dengan-Nya," nasihat Badui sambil berlalu.
🏾Demi mendengar nasihat badui tadi, tekad Ahmad menjadi bulat kembali: hanya Jihad fii sabilillah. Tidak ada pilihan kedua❗️
________oo0oo________
Tekad Ahmad semakin kuat karena seseorang bernama Abu Ja'far al-Anbary. Abu Ja'far berkisah:
Saat aku mendengar Ahmad dibawa menghadap al-Ma'mun, aku bergegas mengejar rombongan prajurit yang mengawalnya. Aku berhasil mengejar. Ternyata dia sedang duduk di sebuah kemah. Aku hampiri dia.
"Abu Ja'far, berhati-hatilah Jangan tergesa-gesa!" katanya.
"Untuk yang seperti ini, buat apa berhati-hati," jawabku.
"Ahmad, engkau sekarang adalah panutan. Dan semua orang memandang ke arahmu. Demi Allah, jika engkau menerima ajakannya, pasti banyak kaum muslimin yang juga menerima ajakannya.
️Namun jika engkau menolak, pasti mereka juga akan menolak.
Apapun itu, apabila al-Ma'mun tidak jadi membunuhmu, engkau tetap akan mati. Dan setiap orang pasti akan mati. Maka bertakwalah kepada Allah dan jangan sekali-kali menjawab ajakannya sepatah kata pun!" lanjutku.
Tiba-tiba saja Ahmad menangis tersedu-sedu seraya berkata, "Ma sya Allah❗️Ma sya Allah Abu Ja'far, tolong ulangi lagi nasihatmu!"
Aku pun mengulanginya dan ia semakin terisak-isak.
________oo0oo________
{Kawan... seperjuangan Ahmad dalam perjalanan menuju kemarahan al-Ma'mun, Muhammad bin Nuh juga tak henti-hentinya membangkitkan semangat Ahmad untuk terus tegar membela kebenaran}
Suatu ketika saat mereka beristirahat dalam perjalanan, Muhammad berkata membangkitkan semangat Ahmad,
"Wahai Abu Abdillah, ingatlah Allah❗️ Ingatlah Allah❗️Sungguh, aku tidak sama sepertimu. Andaikan Allah mengujiku kemudian aku menjawab ajakan orang brengsek itu, tidak ada yang akan mengikutiku. Berbeda denganmu.
Engkau panutan. Semua orang  memandang ke arahmu menunggu apa yang akan engkau perbuat. Maka bertakwalah kepada Allah dan tetaplah tegar."
Ahmad berkaca-kaca mendengarnya. Dan bertambah cintalah ia kepada kawannya itu.
Hingga akhirnya sampailah Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Nuh di depan istana al-Ma'mun. Mereka berdua ditempatkan di sebuah kemah 🏕 terlebih dahulu. Mereka berdua tidak henti-hentinya sholat dan berdoa. Dan salah satu doa yang dipanjatkan Ahmad adalah agar tidak diperlihatkan wajah al-Ma'mun.

Tiba-tiba seorang pelayan masuk menemui keduanya. Sembari mengusap  air mata yang mengalir di wajahnya, ia berkata kepada Ahmad,
"Sungguh aku tidak  sampai hati, Abu Abdillah. Al-Ma'mun benar-benar telah menghunuskan pedangnya. Dia juga telah mengasah tombaknya. Dia berteriak 📢,
"Tidak akan aku sarungkan 🗡pedangku dari leher Ahmad dan kawannya itu sampai mereka berdua mengatakan al-Qur'an makhluk."
Seketika Ahmad lemas, tak kuasa menahan tubuhnya, dan bersimpuh di atas lututnya. Sambil menghadap ke arah langit, ia berdoa,
"Rabbku, orang ini benar-benar telah lancang dengan kelemahlembutan-Mu. Sampai-sampai dia durhaka kepada para kekasih-Mu. Ya Allah, jikalau benar al-Qur'an adalah kalam-Mu bukan makhluk, cukupkanlah kami dari fitnahnya."
Maka, belum berlalu sepertiga malam awal, seantero istana dikejutkan dengan teriakan:
AMIRUL MUKMININ MENINGGAL DUNIA ‼️
Peristiwa ini terjadi pada tahun 218 H
{Jazakumullahu khairan atas nasihatmu, kawan. Memang perjuangan mempertahankan keistiqomahan amatlah berat. Dan seperti apa katamu, terkadang kita berusaha menghindar dari penyimpangan A, malah hampir terjatuh dalam penyimpangan B. Berusaha menghindar dari keduanya, hampir terperosok pada penyimpangan C. Belum lagi jiwa yang Ammaratun bis Suu' (memerintahkan kepada kejelekan). Kita sangat butuh akan belas kasih Allah}
Tahun 229 H, khalifah berganti al-Watsiq, walaupun keyakinan resmi negara tidak juga berganti. Bahkan zaman al-Watsiq semakin menjadi-jadi. Dia berani memanggil seluruh kaum muslimin, bertanya satu per satu tentang keyakinan mereka terhadap al-Qur'an. jika menjawab makhluk, dibebaskan. Jika tidak, berbagai bentuk hukuman menanti.
Hanya satu tak dipanggil olehnya. Imam Ahmad bin Hanbal. Al-Watsiq khawatir kesabaran dan keteguhannya mempengaruhi kaum muslimin. Maka Imam Ahmad diasingkan dari satu tempat ke tempat lainnya selama beberapa bulan. Hingga akhirnya beliau ditetapkan sebagai tahanan rumah. Tidak boleh keluar, dan tidak boleh menerima tamu.
Sampai akhirnya, Iblis berusaha menggelincirkan Ahmad dari pintu penyimpangan lain. Jika sebelumnya dari pintu pemahaman Jahmiyah, kali ini dari pemahaman Khawarij. Alkisah, sekelompok ahli fikih Baghdad berusaha menemui Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka ingin mengajak Imam Ahmad menggulingkan kekuasaan al-Watsiq. Mereka yakin apabila Imam Ahmad ikut dalam pasukan mereka, pasti banyak massa kaum muslimin yang ikut bergabung.
"Perkaranya sudah kelewat batas, Imam," bujuk mereka.
"Sudah cukup sampai di sini kedzalimannya. Kami tidak ridha dengan kepemimpinannya. Kami tidak ridha dengan pemerintahannya."
Imam Ahmad jeli. Iblis berusaha merusak akidah kaum muslimin dari pintu lainnya. Ini bukan cara mengingkari kemungkaran yang tepat. Ini bentuk penyimpangan lainnya.
"Ingkari perbuatannya dalam kalbu-kalbu kalian. Jangan sekali-kali kalian melawan penguasa. Jangan kalian patahkan tongkat kaum muslimin. Jangan kalian tumpahkan darah kalian dan darah kaum muslimin yang ikut bersama kalian. Pertimbangkan lagi akibatnya. Sabarlah sampai tiba waktunya untuk istirahat, mungkin dengan meninggalnya kalian atau meninggalnya dia terlebih dahulu. Memberontak bukanlah ajaran yang benar. Ini menyelisihi bimbingan Rasul," nasihat Imam Ahmad.
Waktu terus bergulir. Semua cobaan dan fitnah dihadapi Ahmad dengan penuh kesabaran. Hingga pada tahun 232 H, al-Mutawakkil naik menggantikan al-Watsiq. Allah tolong agama-Nya dengan sebab beliau. Allah tegakkan sunah dengan sebab beliau. Dan Allah tampakkan akidah ahlussunnah dengan sebab al-Mutawakkil setelah sebelumnya ahlussunnah mendapatkan ujian, fitnah, dan cobaan yang sangat dahsyat pada tiga khalifah sebelumnya.
Tercatat pada tahun 234 H, al-Mutawakkil mengumpulkan seluruh alim ulama' untuk membuat tabligh akbar dan dauroh di berbagai tempat dengan tema membantah pemahaman Jahmiyah dan Mu'tazilah, akar pemikiran al-Qur'an adalah makhluk. Juga menanggung biaya kehidupan siapa saja di antara para ulama' yang mau mengadakan muhadharah, kajian, dan tabligh akbar bertemakan tadi.
Suatu ketika ada di antara ahli bid'ah yang ingin memprovokasi al-Mutawakkil. Dia melaporkan bahwa ada pertikaian antara para sahabat dan murid Imam Ahmad dengan sekelompok ahli bid'ah. Maka dengan tegas al-Mutawakkil berkata, "Jangan kalian laporkan lagi perihal Ahmad bin Hanbal dan para sahabatnya. Justru seharusnya kalian membantu mereka. Mereka termasuk pemuka umat Muhammad. Sungguh Allah telah mengetahui bagaimana kejujuran Ahmad saat bersabar dan menerima cobaan. Allah telah angkat ilmunya, sepanjang hayatnya dan setelah matinya. Para sahabatnya mereka itulah sahabat sejati yang seharusnya kalian jadikan teman. Aku berkhusnudhan kepada Allah bahwa Dia telah memakaikan Ahmad pakaian ash-Shiddiqin."
Meskipun al-Mutawakkil berjasa besar dalam menolong agama Allah, namun Imam Ahmad tidak pernah melihatnya dan tidak pernah mau menerima pemberian darinya.
Pernah suatu ketika Imam Ahmad mendapat kiriman uang dari al-Mutawakkil. Syahdan Imam Ahmad menangis dan berkata, "Aku telah selamat dari fitnah mereka. Sampai di akhir hayatku, aku mendapat fitnah yang baru dari mereka."
Imam Ahmad senantiasa berdoa kepada Allah agar tidak dipertemukan dengan al-Mutawakkil. Maka tatkala beliau diberitahu bahwa al-Mutawakkil sangat mencintai dan merindukannya, beliau menganggapnya sebagai fitnah. Beliau berkata, "Aku sangat mengharapkan syahid pada fitnah yang lampau. Dan aku pun berharap mati pada fitnah ini." Kemudian beliau mengepalkan tangannya lantas membukanya seraya berkata, "Duhai kiranya ruh-ku berada dalam genggamanku, pasti akan aku melepaskannya."
Kawan, apabila engkau benar-benar mengaku mengikuti Rasul, cinta kepada Rasul, seharusnya engkau JANGAN PERNAH MELEMAHKAN DAN MENGGEMBOSI SUNNAH DARI DALAM. Terlebih saat sunnah benar-benar membutuhkan pertolongan. Jangan sekali-kali engkau takut ancaman para mubtadi'. Ingatlah sabda Rasulullah, "Jangan sampai rasa takut dan seganmu kepada seseorang menghalangimu untuk menyuarakan kebenaran saat kamu melihatnya dan mengetahuinya, atau saat kamu mendengarnya dan mengetahuinya."
Oleh karenanya, apabila Imam Ahmad teringat para ulama' yang menjawab ajakan al-Ma'mun —walaupun dengan alasan terpaksa— karena takut ancamannya, beliau berkata, "Mereka!!! Andaikan mau bersabar dan benar-benar berjuang untuk Allah, fitnahnya akan cepat berhenti dan tidak akan berlarut-larut. Sayang mereka lemah untuk memperjuangkannya, padahal mereka adalah pemuka kaum muslimin, sehingga al-Ma'mun lancang kepada yang lainnya."
Terkadang Imam Ahmad marah dan dengan nada tinggi beliau berucap sebagai teguran keras kepada para penggembos dakwah, "Mereka itulah orang yang pertama kali membuat fitnah ini. Mereka itulah orang yang paling bertanggung jawab terhadap fitnah ini."
Lihatlah, kawan, al-Ma'mun sangat bersalah. Ibnu Abi Duad pun sangat bertanggung jawab atas fitnah ini. Namun Imam Ahmad mengatakan yang paling bertanggung jawab atas fitnah ini adalah para ulama yang tidak mau membantu sunnah, padahal sunnah sangat butuh pertolongan.
Pernah Imam Yahya bin Ma'in —dan beliau adalah salah seorang ulama' yang terpaksa menjawab ajakan al-Ma'mun— datang menjenguk Imam Ahmad di saat beliau akan meninggal dunia. Imam Yahya memberi salam kepada beliau. Namun beliau tidak mau menjawab salamnya. Diulangi lagi oleh Imam Yahya, namun tetap Imam Ahmad tidak mau menjawab salam beliau. Kawan, tahukah engkau, Imam Ahmad telah bersumpah tidak mau berbicara kepada para ulama' yang menjawab ajakan al-Ma'mun walaupun dengan alasan terpaksa. Sebagai teguran keras kepada mereka dan pembelajaran bagi mereka. Tentu juga untuk kita semua. Imam Yahya berusaha berkali-kali meminta maaf kepada Imam Ahmad. Tetap saja Imam Ahmad tidak mau berbicara kepadanya.
Begitulah, kawan. Pelajaran sangat berharga dari Imam Ahmad yang mengajarkan kepada kita arti pentingnya memperjuangkan sunnah. Jangan pernah sekali-kali kita merasa lemah menolong sunnah karena takut dengan kekuatan musuh. Atau jangan sekali-kali kita mundur menolong sunnah karena bermuka manis di hadapan musuh. Hadapilah. Dan ketahuilah, semakin engkau berusaha memperjuangkan sunnah, cobaan dan ujian juga akan semakin berat. Dan itu sudah ketetapan dari Allah. Itulah jalan menuju ke Jannah. Penuh tantangan dan rintangan. Akan tetapi Allah akan membantu orang-orang yang mau memperjuangkan sunnah. Dan barangsiapa yang Allah telah bersamanya, kepada siapa dia akan takut!?
Tahan! Tahan air matamu karena jalan masih panjang
Jangan kau biarkan air mata mulia mengalir
Diawal jalan, memang terasa berat
Hatimu bergumam, "apa yang akan terjadi padaku?"
Wahai Sunni, jangan bimbang apabila
Sedikit penolong dan ujian datang silih berganti
Ketahuilah, Allah kan senantiasa menolong hamba-Nya
Dan kunci segala urusan kepada-Nya kembali
Ya Allah, ampunilah kami. Rahmatilah kami. Matikanlah kami dan engkau ridha kepada kami. Ya Allah, jauhkanlah kami dari fitnah yang nampak maupun yang tidak nampak.
Hahaha...memang benar apa katamu, kawan. Membaca biografi ulama' membuat kita ingin menertawakan diri sendiri. Yang sebelumnya kita 'sok merasa sudah berbuat banyak untuk Islam ternyata belum seberapa dibandingkan mereka. Yang sebelumnya tanpa sadar 'sok merasa paling berat ujiannya nyatanya hanya bagaikan riyak-riyak kecil di lautan jika dibandingkan mereka. Allahul Musta'an.
Adapun pertanyaanmu, bukankah pusat pemerintahan kaum muslimin di Baghdad dan Imam Ahmad tinggal di Baghdad? Kenapa dibawa keluar Baghdad? Dimana istana al-Ma'mun?
Begini, kawan. Memang pusat pemerintahan kaum muslimin di Baghdad. Hanya saja al-Ma'mun gemar berperang melawan kaum kuffar. Bahkan Allah menganugrahinya kepiawaian dalam tehnik, siasat, orator dan komando peperangan. Lihat saja kesombongannya, "Mu'awiyah bin Abi Sufyan butuh 'Amr bin al-'Ash menjadi panglimanya. 'Abdul Malik bin Marwan butuh Hajjaj bin Yusuf menjadi panglimanya. Sedangkan aku, aku hanya butuh diriku sendiri."
Sehingga dia lebih memilih membangun istana baru di tapal batas daerah kaum muslimin di Tarsus dan menyerahkan kepengurusan di Baghdad kepada Ishaq bin Ibrahim.
Sepeninggal al-Ma'mun, khilafah diserahkan kepada al-Mu'tashim. Namun, sungguh kasihan al-Mu'tashim. Dia mengambil penasihat seorang ahli bid'ah bernama Ibnu Abi Duad. Berapa banyak pemimpin yang binasa saat dia mengambil penasihat dari kalangan ahli bid'ah. Dia merusak agama dan dunianya.
Dengan saran Ibnu Abi Duad, al-Mu'tashim memerintahkan Ahmad dibawa kembali ke Baghdad. Tibalah Ahmad di istana al-Mu'tashim.
Oh iya, kawan! Sebelum itu, dalam perjalanan pulang ke Baghdad, perjuangan Ahmad semakin terjal. Dia harus berjuang sendirian. Kawannya dipanggil Allah tabaraka wa ta'ala berpulang. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Kabar baiknya tak se-centi-pun Ahmad mundur dari kancah perjuangan. Bahkan Ahmad semakin merasa harus habis-habisan membela agama. Dia ingin menebus jasa kawannya yang senantiasa memberin ya spirit istiqamah. Ba'dallah tentunya. Ahmad tidak ingin mengecewakan kawannya. Segera dia usap air mata dari wajahnya, mengkafani, menyolati, dan menguburkannya. Rahimahullahu Muhammad bin Nuh.
Mengenai kawannya ini, Muhammad bin Nuh, Ahmad berkata, "Tidak pernah aku temui orang yang walaupun masih muda belia namun sangat istiqamah dalam agama kecuali Muhammad bin Nuh."
Tibalah Ahmad di istana al-Mu'tashim. Ahmad melihat al-Mu'tashim dikelilingi para penasihatnya. Benar, kawan, semuanya dari kalangan ahli bid'ah.
"Mendekatlah," kata al-Mu'tashim.
"Sebenarnya aku tak ingin mengusikmu andaikan kau bukan tahanan khalifah sebelumku.
Sudahlah, Ahmad. Buat apa kau keras kepala dengan keyakinanmu itu. Mudah saja urusannya. Kau hanya cukup mengucapkan beberapa kalimat yang ku pinta. Selesai. Lalu aku sendiri yang akan melepaskan belenggu darimu. Aku juga akan sering berkunjung ke rumahmu dengan pasukanku, sebagai rasa hormatku padamu," lanjut al-Mu'tashim merayu.
Dengan tenang Ahmad menjawab, "Aku pun hanya minta satu dalil saja, Amirul Mukminin. Terserah dari al-Qur'an atau hadits. Sehingga aku penuh keyakinan mengucapkannya."
"Jawab permintaannya," seru al-Mu'tashim kepada para penasihatnya.
Para ulama' gadungan itu pun memelintir dalil seenaknya, berdusta atas nama al-Qur'an dan Sunah. Karena memang Ahmad ulama' sejati, mudah saja baginya meluruskan semua dalil yang mereka putar-balikkan maknanya. Hingga mereka semua terbungkam, tak berani berdalil lagi.
Tahu teman-temannya terbungkam, Ibnu Abi Duad segera berkata kepada al-Mu'tashim, "Amirul Mukminin, Wallahi dia ini sesat menyesatkan. Jangan sampai kau tertipu. Mereka inilah para penasihatmu yang terbimbing. Soal agama, serahkan kepada mereka."
Kawan...satu pesanku, hati-hatilah memilih teman❗Karena bisa jadi hati nuranimu baik, namun temanmu menggiringmu terlampau jauh dari kebaikan. Al-Mu'tashim sejatinya menyimpan kekaguman kepada Ahmad. Dalam pertemuan tersebut al-Mu'tashim bergumam tentang Ahmad, "Demi Allah, dia itu Ulama. Demi Allah, dia itu ahli fikih. Aku ingin oran
g sepertinya duduk di sampingku mendebat orang-orang kafir."
Lalu, al-Mu'tashim menoleh kepada Ahmad dan mengulangi rayuannya, "Sudahlah, Ahmad. Buat apa kau keras kepala dengan keyakinanmu itu. Mudah saja urusannya. Kau hanya cukup mengucapkan beberapa kalimat yang ku pinta. Selesai. Lalu aku sendiri yang akan melepaskan belenggu darimu. Aku juga akan sering berkunjung ke rumahmu dengan pasukanku, sebagai rasa hormatku padamu."
Namun kali ini dengan sedikit mengancam, "Tahukah kau Shalih Rasyidi? Dia adalah guruku, pembimbingku. Sayang dia menyelisihiku tentang keyakinan al-Qur'an. Maka aku suruh dia diseret dan dipenggal."
Ahmad pun menjawab dengan jawaban yang sama. Al-Mu'tashim kembali merayu. Namun seolah rayuannya adalah pupuk yang semakin mengokohkan prinsip Ahmad. Semakin dirayu semakin tak bergeming.
Sampai akhirnya al-Mu'tashim geram dan menyuruh algojonya menyeret ke tempat eksekusi.
Saat digiring ke tempat eksekusi, tiba-tiba saja ada yang menarik baju Ahmad.
"Kenal aku?" tanyanya.
"Tidak," jawab Ahmad.
"Aku Abul Haitsam. Pencuri yang bengis. Tertulis di catatan Amirul Mukminin aku dicambuk 18.000 kali cambukan. Tapi aku berusaha menahan pedihnya cambukan. Padahal dalam rangka mencari dunia menaati syaithan. Sedangkan engkau dalam rangka membela agama menaati Allah. Maka sabarlah! Sabarlah."
Karena kejadian itu, sering Ahmad berdoa, "Ya Allah, ampunilah Abul Haitsam."
Sampailah Ahmad di tempat eksekusi. Ternyata al-Mu'tashim ditemani Ibnu Abi Duad telah berada di sana.
Ctar...!!! Benar-benar gila! Tanpa perasaan!
Ctar...!!! Sakit. Pedih. Namun, Ahmad berusaha mengingat-ingat pesan badui dan kawannya.
Ctar..!!! Tiba-tiba pandangan Ahmad mulai berkunang-kunang samar. Pingsan sesaat, lalu sadar kembali. Benar-benar tak berperasaan.
Ctar..!!! Kawan, andaikan kau di sana, kau tak akan tahan melihat betapa beringasnya algojo mencambuk Ahmad.
Al-Mu'tashim sendiri tak tega. "Sungguh aku telah berbuat dosa kepadanya."
"Tidak, Amirul Mukminin!" tiba-tiba saja Ibnu Abi Duad menyela Amirul Mukminin.
"Kenapa engkau berdosa!? Dia itu kafir. Dia itu musyrik. Pendosa. Kesyirikannya tidak hanya satu." dengan menggebu-gebu Ibnu Abi Duad menyulut amarah al-Mu'tashim.
Benar saja. "Yang keras!!!" teriak al-Mu'tashim kepada algojonya.
Ctar...!!!! Oh...sakit tak tertanggungkan. Sekarang pandangan Ahmad benar-benar hitam. Ahmad baru sadar saat tabib mengambil dagingnya yang mati akibat kejamnya cambukan tadi. Namun karena perihnya terapi sang tabib, Ahmad kembali pingsan.
Di tempat lain, al-Mu'tashim benar-benar menyesali perbuatannya. Biadab. Tak berperi kemanusiaan. Hatinya gundah. Pikirannya kacau. Terlebih saat diberi tahu bahwa Ahmad berkata, "Akan aku tuntut mereka di hadapan Allah tabaraka wa ta'ala." Al-Mu'tashim pucat, takut, dan was-was. Akhirnya dia membebaskan Ahmad.
Dan diriwayatkan bahwa Ahmad berkata, "Aku telah memaafkan semuanya. Kecuali Ibnu Abi Duad dan yang semisal dengannya."
begitulah, kawan. Semoga sedikit kisah ini bermanfaat bagiku dan bagimu. Keep istiqamah❗
Dan sedikit bocoran: perjuangan Imam Ahmad belum habis.
👉Insya Allah, kita lanjutkan lain waktu.
Atau, engkau yang memberi tahuku kisah selanjutnya.
Baarakallahu fiik.
Sumber Refrensi:
- Siyar A'laamin Nubala'
- Al-Bidayah wan Nihayah
- As-Sunnah lil Khallal
Komplek Ma'had Daarus Salaf Sanggrahan, Grogol, Sukoharjo
Publikasi:
WA Salafy Solo
11 Shafar 1437 H | 22 Nopember 2015
Tambahan admin:
Sampai akhirnya, pada masa khalifah Al-Mutawakkil, beliau dibebaskan dari segala bentuk penyiksaan tersebut.
Wafat beliau rahimahullah
Pada Rabu malam tanggal 3 Rabi’ul Awal tahun 241 Hijriyah, beliau mengalami sakit yang cukup serius. Sakit beliau semakin hari semakin bertambah parah. Manusia pun berduyun-duyun siang dan malam datang untuk menjenguk dan menyalami beliau. Kemudian pada hari Jum’at tanggal 12 Rabi’ul Awal, di hari yang ke sembilan dari sakitnya, mereka berkumpul di rumah beliau sampai memenuhi jalan-jalan dan gang. Tak lama kemudian pada siang harinya beliau menghembuskan nafas yang terakhir. Maka meledaklah tangisan dan air mata mengalir membasahi bumi Baghdad. Beliau wafat dalam usia 77 tahun. Sekitar 1,7 juta manusia ikut mengantarkan jenazah beliau. Kaum muslimin dan bahkan orang-orang Yahudi, Nasrani serta Majusi turut berkabung pada hari tersebut.
Al-Hafizh Abu Zur'ah menyebutkan bahwa jumlah mereka mencapai dua setengah juta (2,5 juta) manusia
Al-Hafizh 'Abdul Wahhab al-Warraq berkata: "Tidak pernah sampai kepada kami baik di masa jahiliyah ataupun di masa Islam, kumpulan manusia yang mengiringi sebuah jenazah yang lebih besar dari pada kumpulan manusia yang berkumpul mengiringi jenazah Imam Ahmad."
Ibnu Hatim berkata: "Saya mendengar bahwa di hari meninggalnya Ahmad bin Hanbal ada dua puluh ribu orang dari kalangan Yahudi, Nashrani, dan Majusi yang telah masuk Islam." 
["Al-Bidayah wan Nihayah" karya Ibnu Katsir (10/342)]
Selamat jalan, semoga Allah merahmatimu dengan rahmat-Nya yang luas dan menempatkanmu di tempat yang mulia di Jannah-Nya.

Monday, April 25, 2016

Agar Terhindar Dari Sifat Hasad

Abdullah Al Pinrany
 



∆Berikut ini beberapa perkara yang bisa membantu seseorang agar terhindar dari sifat hasad:

✔Ketakwaan & kesabaran

🍃Allah subhanahu wa ta'ala berfirman tentang kondisi orang-orang yang hasad;

إن تمسسكم حسنة تسؤهم وإن تصبكم سيئة يفرحوا بها وإن تصبروا وتتقوا لا يضركم كيدهم شيئا إن الله بما يعملون محيط

"Jika kalian mendapatkan kebaikan maka merekapun merasa sedih, namun jika kalian mendapatkan keburukan maka merekapun bergembira, dan jika kalian bersabar dan bertakwa maka tidaklah tipu daya mereka itu membahayakan kalian sedikitpun juga, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka lakukan".
_____
QS. Ali 'Imran: 120

🔎Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah;

" Barangsiapa yang mendapati pada dirinya sifat hasad kepada selainnya maka hendaklah ia menggunakan ketakwaan dan kesabaran serta membenci perkara hasad tersebut ada pada dirinya, maka barangsiapa yang bertakwa dan bersabar dan tidak termasuk orang yang dzalim maka Allah akan memberikan manfaat dengan ketakwaannya tersebut...".
_____
📙Al Fatawa (10/125)

✔Berbuat kebaikan kepada orang yang hasad kepada kita.

🍃Allah subhanahu wa ta'ala berfirman;

ادفع بالتي هي أحسن فإذا الذي بينك وبينه عداوة كأنه ولي حميم

"Balaslah kejelekan itu dengan perkara yang lebih baik, sehingga orang yang terdapat permusuhan denganmu menjadi seorang sahabat yang sangat akrab".
____
QS. Fushshilat: 34

✔Menyembunyikan atau tidak menampakkan kenikmatan yang kita dapatkan kepada seorang yang diketahui memiliki sifat hasad.

👉🏻Oleh sebab itulah diantara nasehat Nabi Ya'qub'alaihis salam kepada anaknya Yusuf 'alaihis salamtatkala mengetahui sifat hasad yang ada pada saudara-saudaranya agar yusuf menyembunyikan nikmat mimpi yang ia alami.

🍃Allah subhanahu wa ta'ala berfirman;

قال يا بني لا تقصص رؤياك على إخوتك فيكيدوا لك كيدا إن الشيطان للإنسان عدو مبين

" (Ya'qub) berkata; wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu ini kepada saudara-saudaramu sehingga mereka akan membuat tipu daya terhadapmu, sesungguhnya syaithan adalah musuh yang sangat jelas bagi manusia".
_____
QS. Yusuf: 5

🔎Berkata Ibnu Rajab Al Hanbaly rahimahullah;

وما زالت الفضائل إذا ظهرت تحسد

"Terus menerus suatu keutamaan itu ketika telah nampak akan dihasadi".
_____
📙Latha_if Al Ma'arif (61)

✔Mengingat kematian.

🔎Berkata Abu Darda' radhiyallahu 'anhu;

ما أكثر عبد ذكر الموت إلا قل فرحه وقل حسده

" Tidaklah seorang hamba memperbanyak mengingat kematian kecuali akan berkurang sikap bersenang-senangnya dan akan berkurang sifat hasadnya".
______
📙Mausu'ah Ibni Abid Dun_ya (5/514)

🔎Berkata Raja' bin Haiwah rahimahullah;

ما أكثر ذكر الموت إلا ترك الفرح والحسد

"Tidaklah seorang memperbanyak mengingat kematian kecuali akan meninggalkan bersenang-senang dan hasad".
_____
📙Mausu'ah Ibni Abid Dun_ya (5/429)

Wallahu a'lam


📝Ustadz Fauzan Abu Muhammad Hafizhahullah 

Saturday, April 23, 2016

ILmu sangat penting bagi setiap Muslim

Abdullah Al Pinrany


Ketahuilah Wahai Sahabat
Tidak setiap Muslim harus jadi ulama, tapi setiap Muslim tidak peduli apapun profesi dan pekerjaannya adalah tetap wajib belajar ilmu agama!
Bagi sebagian orang Gaptek (Gagap teknologi) adalah suatu hal yang sangat memalukan terlebih zaman ini, tapi percayalah, gagap ilmu agama itu sungguh jauh lebih menghinakan didunia ataupun akhirat!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Menuntut ilmu itu wajib (hukumnya) atas setiap muslim” (Shahihul Jami’ 3913)
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,
إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْآخِرَة
“Sesungguhnya Allah ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akherat (ilmu agama)”. (HR. Al Hakim dishahihkan oleh al-Albani)

Monday, April 18, 2016

Wahai Rakyat Aceh sadarlah

Abdullah Al Pinrany


Ibnu Nugraha menulis:
ACB POST | Tidak sengaja Wartawan kami ACB Post mengunjungi Fanspage Idrus Ramli di Facebook. Namun ada keanehan disana. Seorang netizen bertanya kepadanya pada 14 September jam 09:24. Berikut kami kutip secara langsung pertanyaannya:
‪#‎Pertanyaan Kami Kepada Idrus Ramli:
  1. Pernahkah ada orang dari Indonesia khususnya dari Aceh yang dilarang pergi haji oleh Arab Saudi karena mereka membenci Wahhabi?
  2. Pernahkah ada orang dari Indonesia khususnya dari Aceh ketika ibadah di tanah suci dibunuh oleh Pemerintah Arab Saudi karena mereka memusuhi Wahhabi?
  3. Pernahkah ada seorang TKW/TKI khususnya dari Aceh yang dibunuh oleh Pemerintah Arab Saudi tersebab mereka anti Wahhabi?
  4. Jika tuduhanmu Wahhabi itu haus darah kenapa tak ada satu pun bukti para TKW/TKI, dan para Mahasiswa/wi yang belajar gratis dan wasilitas serba wah di Arab Saudi itu dianiaya, didzalimi atau dibunuh dengan sebab mereka beda idiologi?
  5. Jika memang Wahhabi itu haus darah kenapa justru para TKW/TKI, dan para Mahasiswa/wi yang ada di Arab Saudi merasa sangat betah dan ingin kembali mengulang tinggal di sana? Bahkan Bp SAS sampai 14 tahun tinggal dan kuliah di Arab Saudi?
  6. Jika memang Wahhabi itu haus darah kenapa justru ketika Aceh tertimpa musibah tsunami, negara Arab Saudi malah menggelontorkan banyak bantuan yang cukup banyak?
  7. Dan ketahuilah segala tuduhanmu tentang Wahhabi yang tak terbukti, apalagi tak ada saksi-saksi yang valid, justru akan kembali kepada si penuduh, dan pasti akan Diminta pertanggungjawabannya oleh Al- Wahhab di akhirat nanti.
Bahkan faktanya belum pernah ada orang tengah tahlilan atau yasinan yang dibubarkan secara paksa, apalagi ada yang sampai dibunuh, dan belum pernah ada ponpes yang dibubarkan oleh orang-orang yang dituduh Wahhabi, apalagi sampai mengkafirkan. Yang ada justru sebaliknya.”
Dari pertanyaan diatas sampai sekarang Idrus Ramli belum bisa menjawab. Karena memang itu adalah fitnah selama ini yang dibuat olehnya. Menurut penelurusan ACB Post media

Monday, April 11, 2016

DIANTARA AKHLAQ PARA SALAFUS-SHALIH.

Abdullah Al Pinrany
Jika buku-buku yang kita baca menjadikan kita merasa lebih tahu daripada sesama..
Jika kajian-kajian yang kita hadiri membuat kita merasa telah pasti berada di jalan yang diridhai..
Jika dengan berada di jama'ah A, mengutip Syaikh B, dan menjadi murid Ustadz C menguarkan dalam dada kalimat, "Aku lebih baik daripada dia.."
Jika 'ilmu & 'amal yang kita raih menumbuhkan perasaan betapa berhaknya kita atas surga..
Mari kita simak satu kisah di antara berpuluh ribu kemuliaan para salafush shalih.
Adalah Al Imam Abul Faraj ibn Al Jauzy, rautan pena yang digunakannya untuk menulis dapat menyalakan perapian sebuah rumah selama berbulan-bulan. Jika jumlah halaman seluruh karya tulisannya yang sekira 2000 judul dibagi dengan umurnya sejak baligh, maka dihasilkan bilangan 40 halaman per hari.
Melalui dakwahnya, lebih dari 30.000 Yahudi dan Nasrani masuk Islam. Melalui mau'izhahnya, lebih dari 100.000 orang bertaubat dari dosa-dosa. Tapi adalah beliau berwasiat kepada para muridnya sambil menangis terisak-isak.
"Jika kalian telah masuk ke dalam surga Allah", ujarnya di sela sesenggukan, "Sedang kalian tak mendapatiku ada di sana.. Maka tanyakanlah oleh kalian tentang diriku. Lalu katakanlah, 'Ya Rabbi, sungguh hambaMu si fulan pernah mengingatkan kami tentang Engkau.. Maka angkatlah dia, sertakan bersama kami dengan rahmatMu." Dan beliau semakin tersedu.
Yaa Rabbanaa.. Aina nahnu min akhlaqis salaf.. Di manakah kedudukan kami dibanding segala kebajikan yang mereka tebar dengan ilmu dan 'amalnya; lalu di mana pula kami dibanding akhlaq dan ketawadhu'an mereka..
Renungan dari Perpustakaan Masjid Nabawi yang membuat hati kami bergoyah-gayih hingga kini..
Ustd. Salim A.F.

Tuesday, March 1, 2016

Keyakinan yang Benar Terhadap Nama dan Sifat Allah

Abdullah Al Pinrany


Urgensi Mengenal Nama dan Sifat-Nya

Sesungguhnya mengenal Allah dan mengilmui tentang Allah akan menghantarkan hamba kepada kecintaan, penghormatan dan pengagungan, rasa takut dan harap, serta rasa ikhlas beramal untuk-Nya. Kebutuhan seorang hamba terhadap ilmu tersebut dan memperoleh buah dari lmu tersebut merupakan kebutuhan yang paling besar, paling utama, dan paling mulia. Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Tidak ada kebutuhan bagi jiwa yang lebih besar daripada kebutuhan mengenal Sang Khaliq, kemudian untuk mencintai-Nya, mengingat-Nya, dan merasa senang dengan pengenalannya tersebut, serta mencari wasilah terhadap-Nya dan kedekatan di sisi-Nya. 

Tidak ada jalan untuk mencapai hal itu kecuali dengan mengenal sifat-sifat-Nya dan nama-nama-Nya. Semakin seorang hamba mengilmui tentang nama dan sifat Allah, dia akan lebih mengetahui tentang Allah dan semakin dekat dengan-Nya. Sebaliknya, semakin seorang hamba mengingkari nama dan sifat Allah, dia akan semakin bodoh terhadap Allah dan akan semakin benci dan jauh dari-Nya. Allah Ta’ala akan menempatkan (mengingat) seorang hamba di sisi-Nya tatkala seorang hamba memberi tempat bagi Allah dalam jiwanya”. Tidak ada jalan untuk mencapainya kecuali dengan mengenal nama dan sifat-Nya serta mempelajari dan memahami maknanya. [1]

Sumber Penetapan Nama dan Sifat Allah adalah al Quran dan Hadist

Dalam menetapkan nama dan sifat bagi Allah harus bersumberkan dari al Quran dan hadist, tidak boleh dengan selain keduanya. Tidak boleh menetapkan dan menolak nama dan sifat Allah berdasarkan akal dan logika semata.

Semua nama-nama yang ditetapkan bagi Allah Ta’ala bersumber dari Al Quran dan hadist yang shahih, bukan dengan akal dan hawa nafsu, karena akal tidak mampu mengetahui nama-nama yang pantas bagi Allah. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al Isra’:36)

Yang Terlarang dalam Memahami Ayat-Ayat Sifat

Kewajiban kita adalah menetapkan nama dan sifat Allah yang telah Allah tetapkan dalam Al Quran dan disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist sesuai tekstual/ zhohirnya. Dalam memahami nash (ayat dan hadist) tentang sifat kita tidak boleh melakukan tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil.

Tahrif adalah menyelewengkan makna nama atau sifat Allah dari makna sebenarnya tanpa adanya dalil. Seperti mentahrif sifat mahabbah (cinta) bagi Allah menjadi irodatul khoir (menginginkan kebaikan) atau mentahrif makna istiwa’ (menetap tinggi) menjadi istaula (berkuasa).

Ta’thil yaitu menolak nama dan sifat Allah baik secara total maupun sebagian. Seperti menolak sifat wajah dan tangan bagi Allah.

Takyif adalah menyebutkan hakekat sifat Allah tanpa menyamakannya dengan makhluk. Seperti menyatakan panjang tangan Allah adalah sekian meter. Takyif tidak boleh dilakukan terhadap sifat Allah karena Allah tidak memberitahukan bagaimana hakekat sifat-Nya dengan sebenarnya.

Tamtsil adalah menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk. Seperti menyatakan Allah memiliki tangan dan tangan Allah sama dengan tangan manusia.[2]

Keempat hal tersebut terlarang dalam memahami nash tentang nama dan sifat Allah.

Sikap Pertengahan dalam Mengimani Nama dan Sifat Allah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Termasuk iman kepada Allah adalah beriman terhadap seluruh sifat yang Allah sifatkan bagi diri-Nya yang telah ditetapkan dalam kitab-Nya dan juga yang disifatkan oleh Rasul-Nya tanpa melakukan tahrif dan ta’thil serta tanpa melakukan takyif dan tamtsil, bahkan wajib beriman bahwa Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy Syuura: 11)[3]

Inilah keyakinan Ahlus sunnah wal jama’ah. Keyakinan yang benar dalam mengimani nama dan sifat Allah. Mereka bersikap adil, berada pertengahan antara pelaku ta’thil (ahlu ta’thil) dan pelaku tamsil (ahlu tamsil). Ahlu ta’thil mengingkari seluruh nama dan sifat yang wajib bagi Allah. Mereka terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menafikan (mengingkari) semuanya, seperti keyakinan Jahmiyyah dan Mu’tazilah. Adapun kelompok yang kedua menafikan sebagiannya, seperti Asy’ariyyah dan Maturidiyyah. Sedangkan ahlu tamtsil menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Mereka menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya, seperti yang diyakini oleh kelompok Karomiyyah dan Hasyaamiyyah.[4]

Jadi, Ahlus sunnah dalam keimananan terhadap nama dan sifat Allah berada di antara dua kelompok yang menyimpang, kelompok yang yang ghuluw (bersikap berlebih-lebihan) dalam menyucikan dan menafikan sifat Allah yaitu ahlu ta’thil dan kelompok yang ghuluw dalam menetapkan sifat Allah yaitu ahlu tamsil. Ahlus sunnah tidak ghuluw (berlebihan) dalam menetapkan dan menafikan, mereka menetapkan nama dan sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan makhluk sebagaimana firman Allah dalam surat Asy Syuura’ di atas.

Dalam firman Allah (yang artinya) “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia’” merupakan penafian yang mengandung kesempurnaan. Ini merupakan sanggahan terhadap Ahlu tamsil. Sedangkan dalam firman Allah “Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” merupakan penetapan nama dan sifat-Nya. Ini merupakan sanggahan terhadap Ahlu ta’thil.

Nama Allah Tidaklah Terbatas

Nama-nama Allah tidak dibatasi bilangan tertentu. Jumlahnya tidak terbatas dan Allah Ta’ala yang mengetahuinya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku memohon kepada Engkau dengan semua nama yang menjadi nama-Mu, baik yang telah Engkau jadikan sebagai nama diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau Engkau sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Mu.”[5]. Tidak ada seorang pun yang dapat membatasi dan mengetahui apa yang masih menjadi rahasia Allah dan menjadi perkara yang ghaib.

Adapun sabda beliau, “Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, yaitu seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghafal dan faham maknanya, niscaya masuk surga”[6], tidak menunjukkan pembatasan nama-nama Allah dengan bilangan sembilan puluh sembilan. Makna yang benar adalah, sesungguhnya nama-nama Allah yang 99 itu mempunyai keutamaan bahwa siapa saja yang menghafal dan memahaminya akan masuk surga. Hal ini seperti seseorang mengatakan, “Saya punya uang 10.000 rupiah untuk disedekahkan”. Ini tidaklah menafikan bahwa saya punya uang yang lain yang tidak saya sedekahkan.[7]

Penyimpangan Terhadap Nama dan Sifat Allah

Terdapat beberapa praktek penyimpangan terhadap nama dan sifat Allah di masyarakat yang harus kita hindari. Allah mencela orang-orang yang melakukan penyimpangan terhadap nama dan sifat Allah. Allah berfirman (yang artinya): “Hanya milik Allah asmaa-ul husna , maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya . Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (Al A’raf:108). Berikut adalah bentuk-bentuk penyimpangan terhadap nama dan sifat Allah:

    Nama Allah digunakan untuk menamakan berhala, seperti ‘Uzza diambil dari nama Allah Al ‘Aziz.
    Menamai Allah dengan sesuatu yang tidak layak, seperti kaum Nasrani menyebut Allah sebagai Tuhan Bapak.
    Menyifati Allah Ta’ala dengan sifat-sifat yang menunjukkan kekurangan dan celaan, padahal Allah Ta’ala Maha Suci dan Maha Tinggi dari semua sifat tersebut, sebagaimana ucapan sangat kotor dari orang-orang Yahudi yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya” (QS. Ali-‘Imraan: 181).
    Menolak makna dari nama-nama Allah.
    Menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk, seperti perkataan ahlu tamtsil.[8]

Buah Keimanan terhadap Nama dan Sifat Allah

Keimanan yang benar tentang nama dan sifat Allah akan memberikan buah yang manis bagi seorang mukmin. Hakekat iman yang sebenarnya adalah mengenal Rabb-Nya dan bersungguh-sungguh dalam mengenal nama dan sifat-Nya sampai mencapai derajat yakin. Sebatas pengenalan seorang hamba terhadap Allah maka sebatas itu pula keimanannya. Semakin bertambah pengenalan terhadap nama dan sifat-Nya, semakin bertambah pula pengenalan seorang hamba terhadap Rabb-Nya dan semakin bertambah pula imannya. Sebaliknya, semakin kurang pengenalan seorang hamba terhadap nama dan sifat-nya semakin berkurang pula imannya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ”Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama” (QS. Faathir:28).

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Maksudnya yang takut dengan rasa takut yang sebenarnya adalah para ulama yang mengenal Allah. Karena semakin mengenal Allah Al ‘Adziim, Al Qadiir, Al ‘Aliim yang disifati dengans sifat yang sempurna dan dengan nama yang indah dan mulia, maka semakin sempurnalah pengenalan terhadap Allah dan semakin sempurna pula ilmu tentang nama dan sifat-Nya, rasa takut yang timbul akan semakin besar dan semakin bertambah”. Seorang ulama salaf mengungkapkan hal ini dalam perkatannya, ”Barangsiapa yang paling mengenal tentang Allah, maka dia yang paling takut kepada-Nya”.[9]

Semoga dengan paparan singkat ini kita menjadi lebih termotivasi untuk lebih mengenal Allah dengan mempelajari nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Wa shalallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad. [Adika Mianoki]


_____________

[1] Dinukil dari Kitab Fiqhul Ad’iyah wal Adzkar Bab “Ahammiyatul ‘ilmi bi asmaaillaahi wa shifaatihi” I/119, Syaikh ‘Abdurrozzaq al Badr, Daar Ibnu ‘Affaan
[2] Lihat Syarh al ‘Aqidah al Washitiyah hal 13-14, Syaikh Shalih Fauzan.
[3] Matan al ‘Aqidah al Wasitihyah
[4] Lihat Al Mufiid fii Muhammaati at Tauhid hal 49, Dr. ‘Abdul Qodir as Shufi, Adwaus Salaf.
[5] Dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam As Shahihah (199)
[6] HR. Bukhari (7392) dan Muslim (2677)
[7] Lihat al Qowaa’idul Mustla 15, Syaikh ‘Utsaimin, Daarul Wathon.
[8] Lihat Syarh al Aqidah Wasithiyah 24, Syaikh Khalid Mushlih, Daarul Ibnul Jauzi.
[9] Dinukil dari Fiqhul Ad’iyah wal Adzkar I/120-121.
Powered by Blogger.

Aqidah dan Manhaj yang Benar

Search in This Blog

Loading...
Directory Blog Salaf