Catatan hal-hal menarik dalam hidup

Breaking News

Blog Popular

14 Oktober, 2014

Syahadat La Ilaha Illallah; Ma’na, Rukun, dan Syaratnya (4- selesai)

By on 05.55


 
Pada tulisan sebelumnya telah diterangkan syarat ilmu, ilmu, yakin, dan ikhlas (http://wahdah.or.id/syahadat-la-ilaha-illallah-mana-rukun-dan-syaratnya-2/ ) serta shidiq dan mahabbah sebagai syarat La Ilaha Illallah. Pada tulisan ini akan dilanjutkan dengan syarat inqiyad (tunduk), qabul, dan kufru bit Thaghut.
6. Inqiyad (Tunduk) Lawan dari Penentangan

Maksudnya kita wajib tunduk kepada Allah dengan melakukan amalan baik yang nampak maupun tersembunyi sebagai wujud konsekuensi syahadat yang telah diucapkan. Ketundukan tersebut mengejawantah dalam sikap penyerahan diri secara total untuk menunaikan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya serta meninggalkan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya.

Hal itu telah ditunjukan oleh banyak ayat al-Qur’an, diantaranya: An-Nisa ayat 65 dan 125, Luqman ayat 22, serta Az-Zumar ayat 54:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [٤:٦٥]

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا [٤:١٢٥]

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.
وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ [٣١:٢٢]
Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.
وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ [٣٩:٥٤]
“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)”.
“Makna berserah diri (al-istislam) kepada Allah dalam ayat di atas adalah tunduk kepada perintah-perintah Allah Ta’ala”, sebagaimana dikatakan oleh Syekh Ahmad ibn Shalih ibn Ibrahim at-Thuwayyan hafidzahullah. (Hasyiyah Durusil Muhimmah Li ‘Ammatil Ummah, hlm. 50)

Termasuk bagian dari syarat inqiyad adalah tunduk terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disertai sikap ridha terhadap terhadap keputusan beliau dan mengamalkan sunnahnya (Lih.Qs An-Nisa:56). Jika seseorang mengucapkan La Ilaha Illallah, namun menolak sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ucapan syahadatnya tidak berguna. Termasuk dalam kategori tidak tunduk kepada Allah, Rasul-Nya dan kandungan serta konsekwensi La Ilaha Illallah adalah tidak berhukum dengan hukum Allah dan Rasul-Nya atau lebih mengutamakan hukum dan undang-undang buatan manusia.

7. Qabul (Menerima) Lawan dari Penolakan
Al qabul artinya menerima. Jadi, kita bersyahadat disertai penerimaan kita berupa ibadah yang murni kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selainNya. Barangsiapa yang bersyahadat tetapi tidak menerima konsekwensinya, maka ia termasuk golongan manusia yang disebutkan oleh Allah dalam surah Ash-Shaffat ayat 35-36 berikut ini:
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ [٣٧:٣٥] وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ [٣٧:٣٦]
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallaah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” (QS. Ash Shaffaat[37]:35-36).
Oleh karena itu, pengucapan kalimat syahadat La Ilaha Illallah harus disertai dengan penerimaan terhadap kandungan dan konsekwensinya. Harus disertai penerimaan secara lahir dan batin, lisan dan qalbu. Sesiapa yang mengucapkan lalu menolak dan menentang kandungan serta konsekwensinya, maka ia telah terjerumus ke dalam kekufuran.
Termasuk dikatakan menolak atau tidak menerima kandungan La Ilaha Illallah, jika seseorang menolak, membenci, dan atau menentang sebagian syariat Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab pengakuan dan penerimaan terhadap La Ilaha Illallah dan segala konsekwensinya inheren di dalamnya penerimaan secara total (kaffah) terhadap syariat Islam yang terkandung dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana diperintahkan oleh Allah Ta’ala melalui firman-Nya dalam surah al-Baqarah ayata 208:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ [٢:٢٠٨]
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah:208)
8. Kufur (Inkar) Terhadap Thaghut
Pengucapan syahadat juga harus disertai dengan sikap penolakan dan pengingkaran segala sesuatu yang dipertuhankan selain Allah berupa Thawaghit (jamak dari Thaghut). Sebagaimana ditegaskan oleh Allah melalui surah Al baqarah ayat 256:
فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا ۗ
“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus”. (QS.Al-Baqarah:256)

Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan jaminan keselamtan bagi yang mengucapkan syahadat dengan pengingkaran terhadap segala yang diibadahi selain Allah. Rasulullah tegaskan dalam sebuah sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Barangispa yang mengucapkan La Ilaha Illallah dan inkar terhadap segala yang diibadahi selain Allah, maka terjaga harta, dan darahnya. Dan hisabanya diserahkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla” (terj. HR. Muslim)

Penjelasan di atas dan penjelasan pada tulisan sebelumnya, menunjukan bahwa kalimat syahadat La Ilaha Illallah tidak cukup sekadar diucapkan. Tapi harus disertai pengetahuan terhadap ma’nanya, penunaian terhadap rukunnya, pemenuhan terhadap syarat-syaratnya dan pengejawantahan terhadap kandungan dan konsekwesinya, serta meninggalkan pembatalnya. Semoga Allah Ta’la meneguhkan kita diatas kalimat yang mulia ini, di dunia dan di akhirat. Wallahu waliyyu dzalika wa maulahu. Wallahu a’lam bis Shawab.
(Selesai)-sym-

Sumber : Syahadat La Ilaha Illallah; Ma’na, Rukun, dan Syaratnya (4- selesai) | Wahdah Islamiyah http://wahdah.or.id/syahadat-la-ilaha-illallah-mana-rukun-dan-syaratnya-4-selesai/#ixzz3FqD2wddj

ZODIAK awas syirik

By on 05.46


Sumber http://almanhaj.or.id/content/2068/slash/0/zodiak/
 Pertanyaan.
Apakah sama hukumnya antara membaca ramalan zodiak di surat kabar dengan mendatangi dukun untuk sekedar bertanya kepadanya. Jazakallah khairan.
Abdullah
08134901****

Jawaban
Yang jelas, perdukunan dan ramalan zodiak (rasi perbintangan), keduanya berkaitan dengan masalah mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib. Yang dimaksud perkara ghaib, yaitu perkara yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera. (Lihat ‘Alamus Sihr, hlm. 263, karya Dr. Umar Sulaiman Al Asyqar). Termasuk perkara ghaib adalah apa yang akan terjadi. Sesungguhnya yang mengetahui perkara ghaib hanyalah Allah Ta’ala. Dia berfirman:

قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ

Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah." [An Naml : 65].

Kemudian Allah memberitahukan sebagian perkara ghaib lewat wahyuNya kepada rasul yang Dia kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

عَالِمَ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا {26} إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. [Al Jin : 26,27].

Syaikh Shalih Al Fauzan menyatakan: “Maka barangsiapa mengaku tahu perkara ghaib dengan sarana apa saja –selain yang dikecualikan oleh Allah kepada para rasulNya (lewat wahyuNya)- maka dia adalah pendusta, kafir, baik lewat membaca telapak tangan, gelas, perdukunan, sihir, perbintangan (zodiak) atau lainnya.” [1]

Beliau juga berkata: “Maka barangsiapa mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib atau membenarkan orang yang mengaku-ngaku hal itu, maka dia musyrik, kafir. Karena dia mengaku-ngaku menyamai Allah dalam perkara yang termasuk kekhususan-kekhusuanNya.” [2].

Dengan demikian, perdukunan dan ramalan zodiak sama-sama haram. Kemudian perlu diketahui, yang dimaksudkan dengan dukun di sini, ialah yang bahasa arabnya adalah kahin atau ‘arraf, yaitu orang yang mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib, apa yang akan terjadi, tempat barang hilang, pencuri barang, isi hati orang dan semacamnya, meskipun di masyarakat dikenal dengan sebutan kyai, orang pintar, orang tua atau lainnya. Mendatangi dukun seperti ini haram hukumnya. Barangsiapa mendatanginya dan bertanya sesuatu kepadanya, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Barangsiapa mendatangi ‘arraf, lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, tidak akan diterima darinya shalat 40 hari. [HR. Muslim, no. 2.230].

Dalam hadits lain, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوْ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Barangsiapa mendatangi (yakni menggauli/mengumpuli) wanita haidh atau mendatangi (yakni menggauli/mengumpuli) wanita pada duburnya atau mendatangi kahin (dukun), maka dia telah kafir kepada (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. [HR Tirmidzi, Abu Dawud, dan lain-lain].

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, bahwa bertanya kepada ‘arraf (dukun) dan semacamnya ada beberapa macam: [3]

Sekedar bertanya saja. Ini hukumnya haram, berdasarkan hadits diatas yang artinya, “Barangsiapa mendatangi ‘arraf lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, tidak akan diterima darinya shalat 40 hari. [HR Muslim, no. 2.230]. Penetapan sangsi (yaitu tidak akan diterima shalatnya 40 hari, Red) bagi si penanya menunjukkan keharamannya. Karena tidak ada sangsi, kecuali terhadap perkara yang diharamkan.

Bertanya kepada dukun, meyakininya dan menganggap (benar) perkataannya. Ini kekafiran, karena pembenarannya terhadap dukun tentang pengetahuan ghaib, berarti mendustakan terhadap Al Qur’an.

Bertanya kepada dukun untuk mengujinya, apakah dia orang yang benar atau pendusta, bukan untuk mengambil perkataannya. Maka ini tidak mengapa dan tidak termasuk (larangan) di dalam hadits (di atas). Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bertanya kepada Ibnu Shayyad untuk mengujinya. Bertanya kepada dukun untuk menampakkan kelemahan dan kedustaannya. Ini terkadang (hukumnya) wajib atau dituntut.

Syaikh Al ‘Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan masalah tanjim (perbintangan). Beliau menyatakan bahwa ilmu tanjim ada dua: [4].

Pertama : Ilmu At Ta’tsir (astrologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang bintang, dengan anggapan bahwa bintang-bintang itu memiliki pengaruh; termasuk ramalan zodiak bintang). Ini ada tiga:

1. Seseorang meyakini bahwa bintang-bintang memiliki pengaruh, sebagai pelaku, dalam arti bahwa bintang-bintang itu yang menciptakan kejadian-kejadian dan keburukan-keburukan. Demikian ini termasuk kategori syirik akbar (syirik yang lebih besar, orangnya kafir atau murtad jika dia orang Islam). Karena, barangsiapa mengakui ada pencipta lain yang menyertai Allah (selain Dia), maka dia musyrik, yaitu melakukan perbuatan syirik yang besar. Sebab dia telah menjadikan makhluk yang ditundukkan (yaitu bintang), menjadi pencipta yang menundukkan.

2. Seseorang menjadikan bintang-bintang sebagai sebab, sehingga berdasarkan bintang-bintang itu, dia mengklaim mengetahui ilmu ghaib. Dia mengambil petunjuk dengan gerakan bintang-bintang, perpindahannya dan perubahannya, bahwa akan terjadi demikian dan demikian karena bintang anu telah menjadi demikian dan demikian. Seperti seseorang mengatakan “Orang ini kehidupannya akan celaka karena dia dilahirkan pada bulan ini dan itu”, “Orang ini kehidupannya akan bahagia karena dia dilahirkan pada bulan ini dan itu”. Orang yang berkata seperti ini telah menjadikan perbintangan sebagai sarana untuk mengklaim ilmu ghaib. Sedangkan klaim bahwa dia tahu ilmu ghaib merupakan kekufuran yang mengakibatkan keluar dari agama. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ

Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah." [An Naml : 65].

Maka barangsiapa mengaku telah mengetahui terhadap ilmu ghaib, berarti dia telah mendustakan Al Qur’an.

3. Seseorang meyakini bintang-bintang itu sebagai sebab terjadinya kebaikan dan keburukan. Maka ini syirik ash-ghar (syirik kecil, yang tidak mengkibatkan murtad dari Islam). Yaitu jika telah terjadi sesuatu, dia menisbatkan kepada bintang-bintang. Dan dia tidak menisbatkan kepada bintang-bintang kecuali setelah terjadinya.

Kedua : Ilmu At Tas-yir (astronomi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang bintang, yang dengan perjalanannya dijadikan petunjuk untuk mashlahat (kebaikan) agama, seperti arah kiblat, atau mashlahat dunia, seperti: arah, letak tempat, musim dan lainnya. Yang seperti ini hukumnya boleh.

Dari penjelasan ini, kita mengetahui bahaya ramalan zodiak (rasi bintang) atau perdukunan. Wallahu al Musta’an.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Lihat kitab At Tauhid, hlm. 30, karya Syaikh Shalih Al Fauzan, Penerbit Darul Qasim, Cet. 2, Th. 1421H/2000 M.
[2]. Lihat kitab At Tauhid, hlm. 31, karya Syaikh Shalih Al Fauzan, Penerbit Darul Qasim.
[3]. Diringkas dari Al Qaulul Mufid ‘Ala Kitab At Tauhid (2/49), karya Syaikh Al ‘Utsaimin, Penerbit Darul ‘Ashimah, Cet. 1, Th. 1415 H.
[4]. Lihat Al Qaulul Mufid ‘Ala Kitab At Tauhid (2/102-103), karya Syaikh Al ‘Utsaimin, Penerbit Darul ‘Ashimah, Cet. 1, Th. 1415 H.

13 Oktober, 2014

Syahadat La Ilaha Illallah; Ma’na, Rukun, dan Syaratnya (3)

By on 05.48



syahadat3
Kita sering mendengar ungkapan ‘’Laa Ilaaha Illallaah adalah kunci surga”. Tetapi sebagian orang salah kaprah memahami ungkapan dia atas. Seolah sekadar mengucapkan sudah cukup. Padahal Laa Ilaaha Illallaah belum cukup sekadar diucapkan. Karena ia memiliki makna yang harus dipahami serta rukun dan syarat yang harus dipenuhi.

Kalau Kalimat Laa Ilaaha Illallaah merupakan kunci maka syarat-syarat syahadat Laa Ilaaha Illallaah adalah gigi-giginya. Setiap kunci akan berfungsi dengan baik jika memiliki gigi. Wahab bin Munabbih pernah ditanya, “Bukankah Laa Ilahaa Illallaah kunci surga?” Ia menjawab, “Betul.” Tetapi, tiada satu kunci pun kecuali ia memiliki gigi-gigi, jika kamu membawa kunci yang memiliki gigi-gigi, pasti engkau dapat membuka pintu, namun jika engkau membawa kunci yang tidak ada gigi-giginya pasti pintu itu tak akan terbuka.” (HR. Bukhari).
Melalui pembacaan (istiqra) terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabawi, para Ulama menyimpulkan bahwa syarat kalimat syahadat La Ilaha Illallah ada delapan, yakni; ilmu, yakin, ikhlas, shidiq, mahabbah, inqiyad, qabul, dan kufur (inkar) terhadap thaghut. Syekh Abdul Aziz ibn Abdillah ibn ‘Abdirrahman ibn Baz rahimahullah merangkumnya dalam dua bait singkat:

علم يقين وإخلاص وصدقك مع محبّة وانقياد والقبول لها
وزد ثامنها الكفران منك بما سوى الإله من الأوثان قد ألها
Syarat ilmu, yakin, dan ikhlas telah diterangkan pada tulisan sebelumnya (http://wahdah.or.id/syahadat-la-ilaha-illallah-mana-rukun-dan-syaratnya-2/). Pada tulisan ini akan diuraikan syarat shidiq dan mahabbah. Semoga Allah menunjuki kita semua ke jalan yang diridhai-Nya.


4. Shidq (Jujur) Lawan dari Dusta
Yaitu mengucapkan syahadat, dengan disertai pembenaran dalam hati. Allah Ta’ala berfirman dalam surah al-‘Ankabut ayat 1-3:
الم [٢٩:١] أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ [٢٩:٢]وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ [٢٩:٣]
Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
Manakala lisan mengucapkan, tetapi hati mendustakan, maka ia adalah munafik dan pendusta. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 8-10.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
“Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepa-da Allah dan Hari kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS.Al-Baqarah: 8-10)
Oleh karena itu hendaknya seseorang mengucapkan kalimat ini dengan jujur dan tidak dusta. Sebab kejujuran merupakan syarat mendapatkan manfaat dari kalimat Laa Ilaaha Illallaah ini. Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya);
ما من أحد يشهد أن لا إله إلا الله وأنّ محمداً عبده ورسوله صادقاً من قلبه إلاّ حرّمه الله على النار
“Tidak lah seseorang bersyahadat Laa Ilaaha Illallaah Muhammad ‘Abduhu Wa Rasuluh jujur dari lubuk hatinya melainkan Allah haramkan dirinya atas neraka.’’ (HR Bukhari).
Diharamkan masuk neraka artinya dimasukkan ke dalam surga. Karena di akhirat kelak hanya ada dua tempat kembali. Fariyqun fil jannati wa fariyqun fis sa’ir. Karena itu dalam riwayat Imam Ahmad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من قال لا إله إلا الله صادقا من قلبه دخل الجنة
“Barangsiapa yang mengucapkan la ilaha illallah dan benar-benar keluar dari lubuk hatinya, niscaya masuk surga”. (HR: Ahmad).

5. Mahabbah (Cinta), Lawan dari Benci
Seorang yang bersyahadat dituntut untuk mencintai kalimat ini. Juga mencintai seluruh amal perbuatan yang merupakan konsekuensi dari kalimat ini. Mencintai Allah dan Rasul-Nya serta mencintai setiap manusia mu’min yang telah bersyahadat mengucapkan kalimat tauhid ini. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al Baqarah[2] ayat 165:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبّاً لِلَّه
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah”. (QS.Al-Baqarah: 165).

Sebagai konsekwensi dari syarat ini adalah mencintai membenci segala yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, berupa perkatan dan perbuatan serta pelakunya. Yakni membenci kekufuran, kesyirikan, perbuatan dosa dan pelakunya. Hal ini merupakan bagian dari iman, bahkan merupakan ikatan iman yang paling kuat dan tanda kesempurnaan iman. (bersambung insya Allah) –sym-

Sumber : Syahadat La Ilaha Illallah; Ma’na, Rukun, dan Syaratnya (3) | Wahdah Islamiyah http://wahdah.or.id/syahadat-la-ilaha-illallah-mana-rukun-dan-syaratnya-3/#ixzz3FqBIlFUp

Apa Yang Harus Diucapkan Ketika Mendengar Adzan dan Iqamat.

By on 05.26

Sumber : http://almanhaj.or.id/content/955/slash/0/apa-yang-harus-diucapkan-ketika-mendengar-adzan-dan-iqamat/
Disunnahkan bagi yang mendengar adzan dan iqamat untuk mengucapkan sebagaimana yang diucapkan muadzin.

Dari Abu Sa'id Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan muadzin." [1]

Dari 'Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Jika muadzin mengucapkan, ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.’ Maka hendaklah salah seorang di antara kalian (juga) mengucapkan, ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.’ Kemudian jika muadzin mengucapkan, ‘Asyhadu allaa ilaaha illallaah.’ Maka ia mengucapkan, ‘Asyhadu allaa ilaaha illallaah.’ Kemudian jika muadzin mengucapkan, ‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah.’ Maka ia mengucapkan, ‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah.’ Kemudian jika muadzin mengucapkan, ‘Hayya 'alash shalaah.’ Maka ia mengucapkan, ‘Laa haula walaa quwwata illaa billaah.’ Kemudian jika mu-adzin mengucapkan, ‘Hayya 'alal falaah.’ Maka ia mengucapkan, ‘Laa haula walaa quwwata illaa billaah.’ Kemudian jika muadzin mengucapkan, ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.’ Maka ia mengucapkan, ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.’ Kemudian jika muadzin mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah.’ Maka ia mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah,’ dengan hati yang tulus, maka dia akan masuk Surga."[2]

Barangsiapa mengucapkan sebagaimana ucapan mu-adzin, atau ketika muadzin mengucapkan hayya 'alatain ("Hayya 'alash shalaah" dan "hayya 'alal falaah"), ia mengucapkan, "Laa haula walaa quwwata illaa billaah," atau menggabungkan antara apa yang diucapkan oleh muadzin dan hauqalah ("Laa haula walaa quwwata illaa billaah."), maka dia telah berbuat benar insya Allah.

Jika muadzin selesai adzan dan iqamat serta pendengar telah menjawabnya, maka hendaklah mengucapkan apa yang ada dalam dua hadits berikut ini:

Dari 'Abdullah bin 'Amr, dia mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ، ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّـى عَلَيَّ صَلَّى اللهُ بِهَا عَلَيْهِ عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوْا اللهَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُوْنَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ اللهَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَّفَاعَةِ.

"Jika kalian mendengar mu-adzin, maka ucapkanlah sebagaimana yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena barangsiapa yang bershalawat untukku sekali, maka dengannya Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mintalah al-wasilah kepada Allah untukku. Ia adalah sebuah tempat di Surga yang tak diraih kecuali oleh seorang hamba di antara hamba-hamba Allah. Dan aku berharap ia adalah aku. Barangsiapa memintakan untukku wasilah kepada Allah, maka dia layak mendapat syafa'atku." [3]

Dari Jabir, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَالَ عِنْدَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: "اَللّهُمَّ رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَـائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا اَلْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ،" حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Barangsiapa yang ketika mendengar adzan mengucapkan, ‘Ya Allah, Rabb seruan yang sempurna ini serta shalat yang didirikan hammad wasilah dan keutamaan. Tempatkanlah ia pada kedudukan yang mulia sebagaimana Kau janjikan.’ Maka dia layak mendapat syafa'atku pada hari Kiamat.” [4]

Catatan:
Disunnahkan bagi seorang muslim agar memperbanyak do’a antara adzan dan iqamat. Karena do’a pada waktu itu dikabulkan.

Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اَلدُّعَاءُ لاَيُرَدُّ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ.

"Do’a antara adzan dan iqamat tidak ditolak." [5]

E. Hal yang Disunnahkan Bagi Mu-adzin [6]
Disunnahkan bagi mu-adzin untuk mengikuti hal-hal berikut:
1. Mengharap wajah Allah dengan adzannya, maka janganlah ia mengambil upah.

Dari 'Utsman bin Abi al-'Ash Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, jadikanlah aku imam bagi kaumku'. Beliau bersabda, 'Engkau adalah imam mereka. Ikutilah orang yang terlemah di antara mereka (jadikan ia sebagai patokan-ed.), dan angkatlah seorang mu-adzin yang tidak mengambil upah dari adzannya." [7]

2. Suci dari hadats besar dan kecil
Sebagaimana yang telah diulas dalam pembahasan "hal-hal yang disunnahkan wudhu' di dalamnya."

3. Berdiri menghadap Kiblat
Ibnul Mundzir berkata, “Telah disepakati bahwa berdiri saat mengumandangkan adzan termasuk sunnah. Karena adzan tersebut menjadi lebih terdengar. Dan termasuk sunnah adalah menghadap kiblat saat mengumandangkan adzan. Karena para mu-adzin Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dulu adzan sambil menghadap Kiblat."

4. Menolehkan kepala dan lehernya ke kanan saat mengucapkan, "Hayya 'alash shalaah," dan ke kiri saat mengucapkan: "Hayya 'alal falaah."

Dari Abu Juhaifah, dia melihat Bilal sedang adzan. Dia berkata, “Aku mengikuti mulutnya ke sana kemari saat adzan.”[8]

5. Memasukkan dua jarinya ke telinga
Berdasarkan perkataan Abu Juhaifah Radhiyallahu anhu, “Aku melihat Bilal sedang adzan sambil memutar dan mengikuti mulutnya ke sana kemari. Sedangkan kedua jarinya ada di dalam kedua telinganya." [9]

6. Mengeraskan suaranya ketika menyeru
Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, “Tidaklah jin, manusia, dan yang lainnya mendengar suara mu-adzin melainkan akan memberikan kesaksian baginya di hari Kiamat.” [10]

F. Berapa Lamakah Jarak Antara Adzan dan Iqamat?
Antara adzan dan iqamat sebaiknya dipisahkan waktu yang cukup untuk persiapan menghadiri shalat. Itulah tujuan disyari'atkannya adzan. Jika tidak demikian, hilanglah hikmahnya.

Ibnu Baththal berkata [11], “Tidak ada batasan dalam hal ini kecuali kepastian tentang masuknya waktu dan berkumpulnya orang-orang yang hendak shalat.”

G. Dilarang Keluar dari Masjid setelah Adzan
Dari Abu Sya'tsa', dia berkata, “Kami pernah duduk-duduk di masjid bersama Abu Hurairah Radhiyallahu anhu maka mu-adzin pun mengumandangkan adzan. Lantas ada seorang laki-laki yang bangkit dan berjalan keluar masjid. Kemudian Abu Hurairah mengikutinya dengan pandangannya hingga ia keluar masjid. Lalu Abu Hurairah berkata, 'Orang ini telah mendurhakai Abul Qasim (Nabi Muhammad). Shallallahu 'alaihi wa sallam'”[12]

H.Adzan dan Iqamat Untuk Shalat yang Terlewatkan
Barangsiapa tertidur dari shalatnya atau lupa, maka disyari'atkan baginya untuk adzan dan iqamat.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kisah tertidurnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Sahabatnya pada suatu perjalanan hingga shalat Shubuh terlewatkan. Bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh Bilal (untuk adzan dan iqamat), lalu Bilal pun adzan dan iqamat."[13]

Jika shalat yang terlewatkan lebih dari satu, maka adzan sekali dan iqamat untuk setiap shalat.

Berdasarkan hadits Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Sesungguhnya orang-orang musyrik telah menyibukkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dari mengerjakan empat shalat pada hari berlangsungnya perang Khandaq. Hingga berlalulah malam menurut kehendak Allah. Maka beliau menyuruh Bilal untuk adzan kemudian iqamat lalu shalat Zhuhur. Kemudian iqamat lalu shalat ‘Ashar. Kemudian iqamat lalu shalat Maghrib. Kemudian iqamat lalu shalat ‘Isya'."[14]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/90 no. 661)], Shahiih Muslim (I/288 no. 383), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/224 no. 518), Sunan at-Tirmidzi (I/134 no. 208), Sunan Ibni Majah (I/238 no. 720), dan Sunan an-Nasa-i (II/23).
[2]. Telah berlalu takhrijnya.
Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (II/169 no. 495), Shahiih Muslim (I/289 no. 385) dan Sunan Abi Dawud (Aunul Ma’buud (II/228 no. 523)].
[3]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 198)], Shahiih Muslim (I/288 no. 384), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/225 no. 519), Sunan at-Tirmidzi (V/ 247 no. 3694) dan Sunan an-Nasa-i (II no. 25).
[4]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 243)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/94 no. 614), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/231 no. 525), Sunan at-Tirmidzi (I/136 no. 211), Sunan an-Nasa-i (II/27) dan Sunan Ibni Majah (I/239 no. 722).
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 489)], Sunan at-Tirmidzi (I/137 no. 212) dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/224 no. 517).
[6]. Fiqhus Sunnah (I/99).
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 497)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/234 no. 527), Sunan an-Nasa-i (II/23) dan Sunan Ibni Majah (I/ 236 no. 714), kalimat terakhir berasal darinya.
[8]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/114 no. 634)], Shahiih Muslim (I/360 no. 503), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/219 no. 516), Sunan at-Tirmidzi (I/126 no. 197) dan Sunan an-Nasa-i (II/12). Adapun menggerakkan dada, maka tidak ada dasarnya sama sekali dalam Sunnah. Tidak pula disebutkan dalam hadits-hadits tentang menggerakkan leher. Sebagaimana disebutkan dalam Tamaamul Minnah hal. 150.
[9]. Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 264)] dan Sunan at-Tirmidzi (I/126 no. 197), dia berkata: "Hadits Hasan Shahiih." Hal ini diamalkan oleh ahlul ilmi. Mereka menyunnahkan mu-adzin memasukkan kedua jarinya ke dalam kedua telinganya saat adzan.
[10]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 625)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/87 no. 609) dan Sunan an-Nasa-i (II/12).
[11]. Al-Hafizh menyebutkannya dalam Fat-hul Baari (II/106).
[12]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 249)], Shahiih Muslim (I453 no. 655), Sunan an-Nasa-i (II/29), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/240 no. 532) dan Sunan at-Tirmidzi (I/131 no. 204). Menurut dua riwayat terakhir, ditegas-kan bahwa peristiwa itu terjadi di waktu ‘Ashar.
[13]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 420)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/106 no. 432).
[14].Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 638)], Sunan at-Tirmidzi (I/115 no. 179), Sunan an-Nasa-i (I/279).

SYARAT-SYARAT SAHNYA SHALAT

By on 05.22


Sumber : http://almanhaj.or.id/content/936/slash/0/syarat-syarat-sahnya-shalat/
Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi


Agar shalat menjadi sah, disyaratkan hal-hal berikut:
A. Mengetahui Masuknya Waktu
Berdasarkan firman Allah:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

“... Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [An-Nissa': 103].

Tidak sah shalat yang dikerjakan sebelum masuknya waktu ataupun setelah keluarnya waktu kecuali ada halangan.

B. Suci dari Hadats Besar dan Kecil
Berdasarkan firman Allah:

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah...” [Al-Maa-idah: 6].

Dan hadits Ibnu 'Umar, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةً بِغَيْرِ طَهُوْرٍ.

"Allah tidak menerima shalat (yang dikerjakan) tanpa bersuci." [1]

C. Kesucian Baju, Badan, dan Tempat yang Digunakan Untuk Shalat
Dalil bagi disyaratkannya kesucian baju adalah firman Allah:

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“Dan Pakaianmu bersihkanlah.” [Al-Muddatstsir: 4].

Dan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ، فَلْيُقَلِّبْ نَعْلَيْهِ، وَلِيَنْظُرْ فِيْهِمَا فَإِنْ رَأَى خَبَثًا، فَلْيَمْسَحْهُ بِاْلأَرْضِ ثُمَّ لِيُصَلِّ فِيْهِمَا.

"Jika salah seorang di antara kalian mendatangi masjid, maka hendaklah ia membalik sandal dan melihatnya. Jika ia melihat najis, maka hendaklah ia menggosokkannya dengan tanah. Kemudian hendaklah ia shalat dengannya."[2]

Adapun dalil bagi disyaratkannya kesucian badan adalah sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada 'Ali. Dia menanyai beliau tentang madzi dan berkata:

تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَكَ.

"Wudhu' dan basuhlah kemaluanmu." [3]

Beliau berkata pada wanita yang istihadhah:

اِغْسِلِيْ عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّيْ.

"Basuhlah darah itu darimu dan shalatlah." [4]

Adapun dalil bagi sucinya tempat adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para Sahabatnya di saat seorang Badui kencing di dalam masjid:

أَرِيْقُوْا عَلى بَوْلِهِ سَجْلاً مِنْ مَاءٍ.

“Siramlah air kencingnya dengan air satu ember.” [5]

Catatan:
Barangsiapa telah shalat dan dia tidak tahu kalau dia terkena najis, maka shalatnya sah dan tidak wajib mengulang. Jika dia mengetahuinya ketika shalat, maka jika memungkinkan untuk menghilangkannya -seperti di sandal, atau pakaian yang lebih dari untuk menutup aurat- maka dia harus melepaskannya dan menyempurnakan shalatnya. Jika tidak memungkinkan untuk itu, maka dia tetap melanjutkan shalatnya dan tidak wajib mengulang.

Berdasarkan hadits Abu Sa'id: “Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat lalu melepaskan kedua sandalnya. Maka orang-orang pun turut melepas sandal-sandal mereka. Ketika selesai, beliau membalikkan badan dan berkata, 'Kenapa kalian melepas sandal kalian?' Mereka menjawab, 'Kami melihat Anda melepasnya, maka kami pun melepasnya.' Beliau berkata, 'Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan mengatakan bahwa pada kedua sandalku terdapat najis. Jika salah seorang di antara kalian mendatangi masjid, maka hendaklah membalik sandalnya dan melihatnya. Jika dia melihat najis, hendaklah ia gosokkan ke tanah. Kemudian hendaklah ia shalat dengannya.'”[6]

D. Menutup Aurat
Berdasarkan firman Allah:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid...” [Al-A'raaf: 31].

Yaitu, tutupilah aurat kalian. Karena mereka dulu thawaf di Baitullah dengan telanjang.

Juga sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

لاَ يَقْبَلُ الله صَلاَةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِحِمَارٍ.

“Allah tidak menerima shalat wanita yang sudah haidh (baligh) kecuali dengan mengenakan penutup kepala (jilbab).” [7]

Aurat laki-laki antara pusar dan lutut. Sebagaimana dalam hadits ‘Amr bin Syu'aib Radhiyallahu anhum, dari ayahnya, dari kakeknya, secara marfu’:

مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ عَوْرَةٌ.

“Antara pusar dan lutut adalah aurat.” [8]

Dari Jarhad al-Aslami, ia berkata, “Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lewat ketika aku mengenakan kain yang tersingkap hingga pahaku terlihat. Beliau bersabda:

غَطِّ فَخِذَكَ فَإِنَّ الْفَخِذَ عَوْرَةٌ.

"Tutuplah pahamu. Karena sesungguhnya paha adalah aurat." [9]

Sedangkan bagi wanita, maka seluruh tubuhnya adalah aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangannya dalam shalat.

Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ.

“Wanita adalah aurat.” [10]

Juga sabda beliau:

لاَ يَقْبَلُ الله صَلاَةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِحِمَارٍ.

“Allah tidak menerima shalat wanita yang sudah pernah haidh (baligh) kecuali dengan mengenakan kain penutup." [11]

E. Menghadap ke Kiblat
Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

“... maka palingkanlah wajahmu ke Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya...” [Al-Baqarah: 150].

Juga sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap orang yang buruk dalam shalatnya:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِعِ الْوُضُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ.

“Jika engkau hendak shalat, maka berwudhu'lah dengan sempurna. Kemudian menghadaplah ke Kiblat...” [12]

Boleh (shalat) dengan tidak menghadap ke Kiblat ketika dalam keadaan takut yang sangat dan ketika shalat sunnat di atas kendaraan sewaktu dalam perjalanan.

Allah berfirman:

فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا

“Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan...” [Al-Baqarah: 239].

Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma berkata, “Menghadap ke Kiblat atau tidak menghadap ke sana.”

Nafi' berkata, “Menurutku, tidaklah Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma menyebutkan hal itu melainkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.” [13]

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Dulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat di atas kendaraannya menghadap ke arah mana saja dan shalat Witir di atasnya. Namun, beliau tidak shalat wajib di atasnya.” [14]

Catatan:
Barangsiapa berusaha mencari arah Kiblat lalu ia shalat menghadap ke arah yang disangka olehnya sebagai arah Kiblat, namun ternyata salah, maka dia tidak wajib mengulang.

Dari 'Amir bin Rabi’ah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan di suatu malam yang gelap dan kami tidak mengetahui arah Kiblat. Lalu tiap-tiap orang dari kami shalat menurut arahnya masing-masing. Ketika tiba waktu pagi, kami ceritakan hal itu pada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu turunlah ayat:

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ

“... maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah...” [Al-Baqarah: 115].”[15]

F. Niat
Hendaklah orang yang ingin shalat meniatkan dan menentukan shalat yang hendak ia kerjakan dengan hatinya, misalnya seperti (meniatkan) shalat Zhuhur, ‘Ashar, atau shalat sunnahnya [16]. Tidak disyari’atkan mengucapkannya karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mengucapkannya. Jika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri untuk shalat, beliau mengucapan, “Allaahu Akbar,” dan tidak mengucapkan apa pun sebelumnya. Sebelumnya beliau tidak melafazhkan niat sama sekali, dan tidak pula mengucapkan, “Aku shalat untuk Allah, shalat ini, menghadap Kiblat, empat raka’at, sebagai imam atau makmum.” Tidak juga mengucapkan, “Tunai atau qadha'...”

Ini semua adalah bid'ah. Tidak seorang pun meriwayatkannya dengan sanad shahih atau dha'if, musnad atau pun mursal. Tidak satu lafazh pun. Tidak dari salah seorang Sahabat beliau, dan tidak pula dianggap baik oleh Tabi’in, ataupun Imam yang empat. [17]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Telah disebutkan takhrijnya.
[2]. Telah disebutkan takhrijnya.
[3]. Telah disebutkan takhrijnya.
[4]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/42, dan 428 no. 331)], Shahiih Muslim (I/261 no. 333), Sunan at-Tirmidzi (I/82 no. 125), Sunan Ibni Majah (I/203 no. 621), Sunan an-Nasa-i (I/184).
[5]. Telah disebutkan takhrijnya.
[6]. Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/353 no. 636).
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 534)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/345 no. 627), Sunan at-Tirmidzi (I/234 no. 375) dan Sunan Ibni Majah (I/215 no. 655).
[8]. Hasan: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 271)], diriwayatkan oleh ad-Daraquthni, Ahmad, dan Abu Dawud.
[9]. Shahih lighairihi: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 269)], Sunan at-Tirmidzi (IV/197 no. 2948), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (XI/52 no. 3995), lihat perkataan Ibnul Qayyim t tentang masalah ini dalam Tahdziibus Sunan (XVII/6).
[10]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 6690)] dan Sunan at-Tirmidzi (II/ 319 no. 1183).
[11]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 534)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/345 no. 627), Sunan at-Tirmidzi (I/234 no. 375) dan Sunan Ibni Majah (I/ 215 no. 655).
[12]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (XI/36 no. 6251)], Shahiih Muslim (I/298 no. 397).
[13]. Shahih: [Muwaththa’ al-Imam Malik (126/442)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (VIII/199 no. 4535).
[14]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/487 no. 700 (69))], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/575 no. 1098), secara mu’allaq.
[15]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 835)], Sunan at-Tirmidzi (I/216 no. 343), Sunan Ibni Majah (I/326 no. 1020), dengan lafazh serupa, begitu pula pada al-Baihaqi (II/11).
[16]. Talkhiish Shifat ash-Shalaah, karya Syaikh al-Albani, hal. 12.
[17]. Zaadul Ma'aad (I/51).

12 Oktober, 2014

Syahadat La Ilaha Illallah; Ma’na, Rukun, dan Syaratnya (2)

By on 05.42



Kita sering mendengar ungkapan ‘’Laa Ilaaha Illallaah adalah kunci surga”. Ungkapan ini memang benar, tetapi sebagian orang salah kaprah memahami masalah ini. Mereka merasa bahwa sekadar mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah sudah cukup. Mereka menganggap diri telah memegang kunci pintu surga. Padahal Laa Ilaaha Illallaah memiliki makna yang harus dipahami dan syarat yang harus dipenuhi. Kalau Kalimat Laa Ilaaha Illallaah merupakan kunci maka syarat-syarat syahadat Laa Ilaaha Illallaah adalah gigi-giginya

Setiap kunci akan berfungsi dengan baik jika memiliki gigi.Wahab bin Munabbih pernah ditanya, “Bukankah Laa Ilahaa Illallaah kunci surga?” Ia menjawab, “Betul.” Tetapi, tiada satu kunci pun kecuali ia memiliki gigi-gigi, jika kamu membawa kunci yang memiliki gigi-gigi, pasti engkau dapat membuka pintu, namun jika engkau membawa kunci yang tidak ada gigi-giginya pasti pintu itu tak akan terbuka.” (HR. Bukhari).

Berikut syarat-syarat kalimat agung ini:
  1. Ilmu sebagai lawan dari kejahilan.
Maksudnya, seorang yang mengucakan syahadat Laa Ilaaha Illallaah harus mengetahui makna kalimat tesebut. Dia harus mengetahui bahwa makna dari kalimat itu adalah bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan semua yang disembah selain Allah adalah sesembahan yang bathil. Pentingnya ilmu sebagai syarat Laa Ilaaha Illallaah diterangkan dalam beberapa ayat al-Quran, di antaranya surah Muhammad ayat 19 di atas dan Surat Az Zukhruf ayat 86:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS.Muhammad[47]:19).
وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ [٤٣:٨٦]
Dan orang-orang yang menyeru kepada selain Allah tidak dapat memberi syafaat (pertolongan di akhirat), kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka menyakini.”
Yang dimaksud dengan al-haq dalam ayat diatas adalah kalimat La Ilaha Illallah. Artinya, orang yang dapat memberi syafaat pada hari kiamat nanti hanyalah orang yang bersyahadat Laa Ilaaha Illallaah .
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjanjikan surga bagi orang yang meninggal dunia dalam keadaan mengetahui makna kalimat Laa Ilaaha Illallaah.
مَن مات وهو يعلم أنّه لا إله إلا الله دخل الجنّة
Barangsiapa yang meninggal dunia sedang ia mengetahui, Tidak ada Ilaah yang berhak disembah kecuali Allah , maka ia akan masuk surga.” (HR Muslim).
Akan tetapi sangat disayangkan sebagaian orang mengucapkan kalimat yang mulia ini tanpa mengetahui maknanya. Sehingga mereka melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kalimat ini.

  1. Yakin, Lawan dari Keraguan
Maksudnya orang yang mengucapkan syahadat Laa Ilaaha Illallaah harus meyakini bahwa hanya Allah yang berhak untuk disembah dan meyakini pula bahwa semua yang disembah selain Allah adalah bathil. Adapun orang yang mengucapkan syahadat tanpa disertai oleh keyakinan maka ucapan syahadatnya tidak akan bermanfaat samasekali.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ [٤٩:١٥]
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS. Al Hujurat:15).
Dalam ayat di atas Allah mensyaratkan agar keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya dikatakan sebagai iman sejati, seseorang tidak boleh ragu dalam keimanannya. Karena ragu dalam keimanan merupakan ciri orang munafik.

Dalam haditsnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menjadikan keyakinan sebagai syarat masuk surga bagi orang mengucapkan syahadat Laa Ilaaha Illallaah. Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;
Aku bersyahadat, Tidak ada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah kecuali Allah dan aku adalah Rasulullah. Tidak lah seoang hamba menemui Allah (meninggal) dalam keadaan tidak ragu tentang dua hal ini melainkan ia kan masuk surga.” (HR. Muslim). 

Dalam riwayat lain dikatakan;
لا يلقى الله بهما عبدٌ غير شاكٍّ فيهما فيحجب عن الجنة
Tidak ada seorang hamba yang bejumpa dengan Allah (meninggal dunia) tanpa meragukan dua kalimat tersebut (yakin terhadap syahadat) yang terhalang masuk surga”
Dalam hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu, Rasulullah berkata kepada beliau:
مَنْ لَقِيتُ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا بِهِ قَلْبُهُ بَشَّرْتُهُ بِالْجَنَّةَ
Siapapun yang anda temui di balik tembok ini bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah disertai keyakinan hatinya terhadap kalimat tersebut, maka sampaikanlah kabar gembira kepadanya (bahwa ia akan masuk) surga”. (HR. Muslim)
  1. Ikhlas lawan dari kesyirikan
Orang yang bersyahadat hendaknya mengucapkan kalimat itu dengan ikhlas semata-semata karena Allah. Kalimat yang agung ini tidak akan memberikan manfaat apa-apa kepada pengucapnya jika tidak diucapkan dengan ikhlas. Allah berfirman dalam surah Az-Zumar ayat 3:
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
Ketahuilah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik)” (39:3)
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwaytkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, “Siapa orang yang paling berbahagia dengan syafa’atmu pada hari kiamat kelak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab;
أسعد الناس بشفاعتي من قال لا إله إلا الله خالصاً من قلبه (أونفسه). . . .
Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku adalah orang yang mengucapkan La Ilaha Illallah dengan ikhlas dari lubuk hatinya atau dirinya” (HR. Bukhari)
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari ‘Utban Radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda;
إِنَّ اللهَ حَرّمَ عَلَى النَّارِ مَن قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله عزّوجلّ
Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah, ia lakukan hal itu karena mengharapkan wajah Allah ‘Azza wa jalla (Ikhlas).” (HR Bukhari).
Berbagai dalil al-Qur’an dan hadits di atas menunjukan bahwa kalimat La Ilaha Illallah tidak cukup sekadar diucapkan. Tapi harus diilmui, diyakini, dan disertai keikhlasan. –sym- (Bersambung insya Allah)

Sumber : Syahadat La Ilaha Illallah; Ma’na, Rukun, dan Syaratnya (2) | Wahdah Islamiyah http://wahdah.or.id/syahadat-la-ilaha-illallah-mana-rukun-dan-syaratnya-2/#ixzz3Fq9ipULz

Followers