Peluang Amal Jariyah

Peluang Amal Jariyah

AQIDAH: PENGERTIAN, KEDUDUKAN DAN SUMBERNYA SERTA METODE SALAF DALAM MEMPELAJARINYA*)

 on Monday, January 4, 2016  


PENGERTIAN AQIDAH

1.    Menurut Bahasa
Diambil dari kata “Al-Aqdu” yang artinya mengikat sesuatu, dan kalimat “I’taqadtu kadza” yaitu aku mengikat hati dan nuraninya. Sedangkan maksud dari aqidah yaitu: sesuatu yang menjadi agama seseorang. Dikatakan: dia memiliki aqidah yang baik artinya selamat dari keragu-raguan. Aqidah termasuk amalan hati maksudnya yaitu keyakinan hati terhadap sesuatu lalu membenarkannya.
2.    Menurut Istilah
Aqidah mempunyai pengertian semua yang diketahui oleh seseorang, diyakini dengan hatinya dan kokoh dalam memegang teguh perkara-perkara agama.
Syariah terbagi menjadi dua bagian: aqidah dan amal
Permasalahan aqidah yaitu perkara yang tidak berkaitan dengan tata cara melakukan suatu amalan, seperti keyakinan tentang nilai-nilai Ketuhanan yang dimiliki oleh Allah dan wajibnya beribadah kepada-Nya serta keyakinan tentang rukun iman yang berikutnya. Ini disebut masalah yang pokok (Ushul / أصول ).

Sedangkan permasalahan amal yaitu perkara yang berkaitan dengan tata cara beramal seperti shalat, zakat, puasa, dan semua hukum yang sifatnya perbuatan. Ini disebut masalah cabang (furu’/ فروع ). Dinamakan demikian (cabang) karena benar dan rusaknya sebuah amalan terbangun diatas pokok (aqidah).

Aqidah yang benar yaitu pondasi yang di atasnya berdiri bangunan agama dan dengannya amalan-amalan menjadi sah.  Sebagaimana firman Allah ta’ala, “Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi: 110)
Dan firman Allah ta’ala, “Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.” (Az-Zumar: 65)
Dan firman-Nya, “Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik).” (Az-Zumar: 2-3)
Ayat-ayat di atas dan yang semakna dengannya -banyak sekali-, semuanya menjelaskan bahwa seluruh amalan tidak akan diterima kecuali jika bersih dari kesyirikan. Berpijak dari sini perhatian para rasul shalawatullahi wa salaamuhu ‘alaihim adalah memperbaiki aqidah terlebih dahulu. Hal utama dan pertama yang mereka serukan adalah mengajak kaumnya untuk beribadah kepada Allah saja serta meninggalkan ibadah kepada selain-Nya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala,  “Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah thagµt”. (An-Nahl : 36)
Dan semua rasul berkata kala pertama berbicara di hadapan kaumnya,
اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” (Al-‘Araf: 59,65,73,85)
Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Syuaib dan para nabi yang lain ‘alihimussalam telah menyampaikan hal itu kepada para kaumnya.
Demikian pula Nabi Muhamamd shallallahu ‘alaihi wasallam setelah diangkat menjadi Rasul, beliau menetap selama 13 tahun di Makkah, mengajak manusia kepada tauhid dan perbaikan aqidah, karena hal itu merupakan pondasi untuk tegaknya bangunan agama ini.
Dan para da’i serta pelaku perbaikan di setiap zaman selalu mengikuti jejak para Nabi dan Rasul tersebut. Mereka mengawali dakwahnya kepada tauhid dan perbaikan aqidah karena hal itu merupakan tiang dan pondasi agama, juga rahasia kekuatan serta kemenangannya atas agama-agama yang lain. Baru setelah itu mereka membahas perkara-perkara agama yang lainnya.

Kedudukan Ilmu Aqidah Islamiyah

Ilmu ini merupakan ilmu yang paling mulia, paling agung dan paling tinggi, hal ini dikarenakan kemuliaan suatu ilmu berkaitan erat dengan materi yang terkandung di dalamnya. Selain itu kedudukan suatu ilmu itu diukur juga dari kebutuhan manusia terhadapnya dan manfaat yang diterima oleh pemiliknya baik di dunia ini maupun di akherat kelak.
Kebutuhan para hamba kepada Ilmu Aqidah ini melebihi kebutuhannya dari yang lain, dan  ketergantungan terhadapnya melebihi kepada yang lainnya. Dimana hati tidak akan hidup, merasakan kenikmatan dan ketenangan jika tidak mengenal Tuhan dan Sesembahannya melalui nama, sifat dan perbuatan-perbuatanNya, juga mengetahui apa yang wajib bagi-Nya dan yang harus disucikan dari-Nya. Sehingga dengan hal-hal tersebut Dia menjadi dzat yang paling dicintainya, melebihi apapun, dan dalam setiap langkahnya dia senantiasa berusaha untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya.
Tatkala benar dan sempurna pengetahuan hamba tentang Tuhannya maka ia akan semakin mengagungkan dan mengikuti syariat Allah dan hukum-hukumNya, serta lebih mengerti tentang nilai akhirat. Maka jika nilai-nilai mulia ini telah tertancap pada diri seorang hamba, mulai dari ilmu tentang Allah ta’ala, mentauhidkan-Nya, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, mengagungkan perintah dan larangan-Nya, serta membenarkan janji dan ancaman-Nya, maka dia akan bahagia di dunia dan di akhirat, juga lingkungannya akan bahagia karenanya. Hal itu terjadi, karena baiknya perilaku seseorang sesuai dengan aqidah dan pemikirannya yang lurus. Demikian pula rusaknya perilaku seseorang, sesuai dengan aqidah dan pemikirannya yang menyimpang.

Sumber-sumber Aqidah dan Metode Salaf dalam Mempelajarinya
Aqidah itu sifatnya Tauqifiyah (baku), tidak ditetapkan kecuali berdasarkan dalil dari pembuat syariat, dan dalam masalah ini akal dan ijtihad tidak berperan. Maka dengan demikian, sumbernya terbatas pada hal-hal yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal itu karena tidak ada seorangpun yang lebih tahu tentang Allah, serta tentang apa yang wajib bagi-Nya dan yang harus disucikan dari-Nya selain Allah sendiri. Dan tidak ada satupun setelah Allah yang lebih mengetahui tentang Allah daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh sebab itu metode para as-salafusshalih dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam mempelajari aqidah ini, terbatas pada dua sumber, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Maka jika terdapat dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang hak Allah ta’ala, mereka akan mengimani, meyakini dan mengamalkannya. Demikian pula, jika tidak ada dalil dari Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya mereka akan menafikan hal tersebut termasuk dari (hak) Allah, dan menolaknya. Oleh karena itu tidak ada perselisihan di antara mereka dalam masalah aqidah. Aqidah mereka satu, dan jama’ah mereka juga satu. Karena Allah ta’ala telah menjamin kesatuan, kebenaran keyakinan, dan persatuan manhaj bagi siapapun yang berpegang teguh dengan Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا
“ Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai “. (QS Ali Imran : 103).
Dan firman-Nya,
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى

“Maka jika datang kepadamu (wahai manusia) petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan tersesat dan tidak akan sengsara (dalam hidupnya)” (QS Thaahaa: 123).
Merekapun  dijuluki sebagai Al-Firqah An-Najiyah (golongan yang selamat), karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersaksi untuk mereka akan keselamatan tatkala menjelaskan tentang terpecahnya umat menjadi 73 golongan, semuanya dimasukkan ke dalam neraka kecuali 1 golongan. Dan tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang golongan yang selamat itu beliau menjawab: “yaitu orang yang menyerupai keadaanku hari ini juga para sahabatku.” (HR. Ahmad).
*) Diterjemahkan oleh Ust. Nurhadi, Lc dari diktat yang berjudul "Masail fil Aqidah Al-Islamiyah lil Aimmah wad Du'at wal Mu'allimin". Diterbitkan oleh As-Sunduq Al-Khoiry At-Ta'limy - Alrajhi Endowment - KSA.

AQIDAH: PENGERTIAN, KEDUDUKAN DAN SUMBERNYA SERTA METODE SALAF DALAM MEMPELAJARINYA*) 4.5 5 Abdullah Al Pinrany Monday, January 4, 2016 PENGERTIAN AQIDAH 1.    Menurut Bahasa Diambil dari kata “Al-Aqdu” yang artinya mengikat s...


Powered by Blogger.