Nilai Sebuah Nikmat (3/3)

 on Saturday, November 28, 2015  

Cukup banyak telah kita ketahui tentang nikmat dan rasa syukur dari bagian-bagian sebelumnya, maka untuk menyempurnakan penjelasan hakikat dari sebuah nikmat, pada bagian terakhir ini diturunkan beberapa kisah yang dapat dijadikan ibroh (pelajaran). Bagaimana kisah-kisah mereka itu?

5 Dalam Kisah Mereka Terdapat Ibroh



Berikut ini kami kutipkan beberapa kisah menyedihkan dengan harapan menjadi ibroh bagi mereka yang berakal akan pentingnya syukur kepada Alloh.



Adalah Mu’tamad bin ‘Abbad, seorang raja Andalus, sebagaimana halnya ayah dan kakeknya. Tetapi dia meninggal dunia sebagai tahanan di penjara pada tahun (488 H). Ibnu Khollikan telah menceritakan biografinya secara panjang dalam Wafayatul A’yan (5/21-39) mulai dari kisah perampasan kerajaannya, penjeblosan ke penjara, penyiksaan dan sebagainya. Yang membaca kisah ini, niscaya akan meneteskan air mata.




Kisah Mu’tamad bin ‘Abbad ini begitu panjang sehingga Ibnu Khollikan meminta maaf kepada pembaca seraya mengatakan, "Kisahnya sangat aneh, belum pernah dijumpai kejadian seperti dalam kisah ini". Di antara yang beliau kisahkan sebagai berikut,


". . . Pada suatu hari raya, putri-putrinya mengunjunginya
di penjara, sebelumnya mereka mengemis kepada penduduk negeri Aghmat, sebuah kota yang terletak di Maghribi, sehingga seorang putrinya ada yang mengemis kepada mantan prajurit ayahnya ketika dahulu masih berkuasa. Dia melihat putri-putri rajanya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan dan menyedihkan sehinggga membuat hatinya terenyuh lalu dia menyenandungkan
sebuah syair:

Dahulu engkau (raja), amat bahagia dan suka-cita dihari raya
Sekarang hari raya di kota Aghmat berubah kesedihan Engkau melihat putri-putrimu dalam kelaparan dan kesedihan
Mereka mengemis kepada manusia sebab sedikit harta pun tak punya
Raja yang menggantimu sekarang dalam kegembiraan
Padahal kerajaan hanyalah impian yang melalaikan.


Contoh lainnya, Muhammad bin Abdul Qodir AI-Jily (wafat tahun 600 H) dikatakan oleh Ibnu Najjar, Muhammad bin Abdul Qodir AI-Jily termasuk orang yang kaya raya, lancar rizkinya. Tetapi dia membalas nikmat Alloh dengan mengingkari takdir, maka dia menjadi fakir, berpemahaman keliru dan tidak memiliki ilmu". 
2


Contoh lainnya, Sulthon Barquq (wafat tahun 824 H). Para pakar sejarah telah bersepakat dalam menceritakan kisah kematiannya. AI Miqrizi seorang pakar sejarah berkata tentang biografinya,




"Pada kisahnya terdapat ibroh berharga. Yaitu tatkala dia
dimandikan, tak ada handuk untuk mengeringkan badannya sehingga dia dihanduki dengan kain milik orang yang memandikannya. Tak ada sarung untuk menutupi auratnya sehingga diambilkan sarung yang terbuat dari kain wol di kepala salah seorang budaknya. Demikian pula, tak dijumpai gayung untuk mengguyur badannya, padahal harta peninggalannya sangat melimpah ruah". 
3

Sejarah juga telah mencatat dan tak dapat melupakan kisah Yahya bin
Kholid AI-Barmaky (wafat tahun 190 H). la pernah mengatakan tatkala
ditahan di penjara kota "Roqoh" sebagaimana diceritakan
AI-Ash’mai, Saya mendengar Yahya berkata,




"Dunia adalah perputaran, harta adalah kebinasaan, orang-orang sebelum kita adalah cerminan bagi kita, adapun kita adalah pelajaran bagi orang-orang setelah kita". 
4

Dari sumber yang sama diceritakan, Pernah dikatakan bahwa anak-anak Yahya pernah bertanya kepada ayahnya tatkala semua ditahan dalam penjara, "Wahai ayah, mengapa setelah kemuliaan dan kebahagiaan, kita berupa seperti ini keadaannya?" Dia menjawab,




"Wahai anakku, doa orang yang terdzolimi kita lalaikan padahal Alloh tidak pernah melalaikannya".


Contoh lainnya lagi adalah Ibnu Nujayyah, Zainuddin Abu Hasan Ali bin Ibrohim AI-Hanbali yang wafat tahun (599 H), beliau termasuk para ulama yang kaya lalu berubah menjadi fakir. Abu Syamah mengatakan,




"Sekalipun demikian, dia meninggal dalam keadaan fakir, dikafani oleh teman-teman sejawatnya, hartanya melayang musnah, keadaannya berubah. Dia wafat di kota Mesir dan dikuburkan disana".
5

Contoh terakhir adalah musuh Alloh yang merugi, Ibnu ‘Al Qomi AI-Baghdadi, seorang Rafidhoh. Imam Dzahabi menceritakan,



"Dia berkuasa selama empat belas tahun lalu menyebarkan pemikiran Rafidhoh dan memerangi sunnah, dihina namun bertambah beringas. Tatkala sampai khabar kepadanya bahwa Hulaku ingin memerangi lraq, maka dia
(Ibnu ‘AI Qomi) mendukungnya dan mengajak bersatu dengannya. Dia membuat lubang yang dalam (sumur) untuk menjebak umat Islam, namun dia sendirilah
yang terjerumus dalamnya. Senjata makan tuan.

Dia merasakan kehinaan, pulang dengan babak belur padahal sebelumnya dia menaiki tunggangan kerajaan. Tak lama kemudian dia mati dalam keadaan hina dina. Lebih-lebih di akherat kelak, tentu lebih dahsyat adzabnya". 
6

Demikianlah akibat orang-orang yang tidak mewujudkan syukur kepadaAlloh atas nikmat yang dikaruniakan kepada mereka. Jadikanlah kisah mereka sebagai pelajaran dalam kehidupan yang fana ini, niscaya engkau akan bersyukur.



Sebagai penutup, penulis selipkan sebuah nasehat Nabi Muhammad kepada seorang sahabatnya yang mulia, Muadz bin Jabal:




Demi Alloh, wahai Muadz, sesungguhnya aku mencintai dirimu, maka aku wasiatkan kepadamu, janganlah engkau lupa untuk membaca (do’a) pada setiap akhir sholat,

"Ya Alloh, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah yang baik kepada-Mu". 
7


Semoga Alloh memasukkan kita termasuk golongan orang-orang yang bersyukur.
Amin.





Catatan Kaki
2
Lihat Lisan Mizan 5/ 263 karya Ibnu Hajar.

3
Adh-Dhou Lami’ 2/310.

4
Siyar A’lam Nubala’ 9/90 karya Adz- Dzahabi.

5
Dhail Ar- Roudhataini hal. 35.

6

Siyar A’lam Nubala’ 23/362 karya Adz-Dzahabi.

7
HR. Abu Daud (985) Ahmad (4/ 338) Nasa’i
(3/502) dan Ibnu Huzaimah (724) dengan sanad shohih.
Nilai Sebuah Nikmat (3/3) 4.5 5 Abdullah Al Pinrany Saturday, November 28, 2015 Cukup banyak telah kita ketahui tentang nikmat dan rasa syukur dari bagian-bagian sebelumnya, maka untuk menyempurnakan penjelasan hakikat ...


Powered by Blogger.