Nilai Sebuah Nikmat (2/3)

 on Thursday, November 26, 2015  

Setelah pendahuluan mengenai nikmat, pengertian dan hakikat syukur, pada bagian kedua akan dijelaskan mengenai betapa lembutnya syukur itu oleh penulis kitab Al-Fawaid (ibnul Qayyim al-jauziyah). Dan perlu diketahui juga bahwa sifat syukur itu adalah suatu sifat yang menjadi ciri khas para Nabi dan Rasul ‘alaihimas salam.





2 Kelembutan Syukur



Imam Ibnu Qoyyim menjelaskan dalam kitabnya AI-Fawaid (hal.
48),




"Termasuk kelembutan beribadah dengan nikmat adalah menganggapbanyak nikmat Alloh sekalipun hanya sedikit, dan menganggap sedikit syukurnya kepada Alloh. Meyakini bahwa nikmat Alloh itu dia peroleh tanpa membayar kepada Sang Pemberi nikmat, dan menganggap bahwa dia sebenarnya tidak berhak mendapatkannya karena semua nikmat hanyalah milik Alloh, bukan milik hamba.


"Sehingga dengan demikian, kenikmatan yang Alloh berikan kepada hamba akan menambahkan sifat tawadhu’ (rendah diri), ketundukan dan kecintaan dalam dirinya kepada yang Maha pemberi nikmat. Setiap kali Alloh memberinya nikmat, hal tersebut menambah ibadah, kecintaan dan kerendahannya. Inilah hamba yang cerdas, jauh dari mengikuti hawa nafsu".





3 Syukur Merupakan Sifat Para Nabi



Tidakkah diri kita ingin meneladani para Nabi, manusia pilihan Robb semesta alam yang telah diutus ke dunia sebagai suri tauladan bagi umatnya?! Ketahuilah bahwa salah satu sifat istimewa mereka adalah syukur terhadap nikmat Alloh. Berikut beberapa contoh kisah para Nabi yang bersyukur:





3.1 Nabi Ibrahim



Alloh berfirman tentang dirinya,



Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Alloh dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Alloh. Alloh telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.
(QS. An-Nahl: 120-121)






3.2 Nabi Nuh



Alloh berfirman dalam AI-Qur’an tentangnya:



Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Alloh) yang banyak bersyukur.
(QS. Al-lsra’: 3)






3.3 Nabi Sulaiman



Alloh berfirman tentangnya:




Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut, Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari", maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo’a, "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". (QS. An-Naml: 18-19).






3.4 Nabi Muhammad 



Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang sangat menarik untuk menjadi perhatian bersama sehingga menyadarkan kita akan kurangnya syukur kita kepada Alloh.



Dari Mughiroh berkata bahwa Nabi sholat malam sehingga bengkak kedua kakinya, maka dikatakan kepadanya, "Mengapa engkau melakukan hal ini padahal Alloh telah mengampuni dosa anda yang telah lalu dan yang akan datang?" Beliau menjawab, "Apakah saya tidak ingin menjadi hamba yang bersyukur?"

Beliau seorang rasul yang telah diampuni dosanya masih senantiasa
berusaha menjadi orang yang bersyukur dengan selalu mendekatkan diri kepada Alloh. Tentunya kita sebagai manusia biasa yang banyak melakukan dosa dan kesalahan haruslah benar-benar mencontoh beliau dalam bersyukur.





4 Kesudahan Syukur Nikmat Dan Kufur Nikmat



Alloh berjanji dalam kitab-Nya yang mulia bahwa Dia akan menambah kenikmatan hamba apabila mereka bersyukur kepada Alloh.




Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim: 7)


Sebaliknya, apabila hamba tidak bersyukur kepada Alloh, maka janganlah heran bila kenikmatan negeri yang gemah ripah loh jinawi, kemewahan, kekayaan, kesehatan dan lainnya berubah menjadi kehancuran dan malapetaka bagi negeri dan penghuninya.




Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan), "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl (sejenis cemara) dan sedikit dari pohon Sidr (sejenis bidara). Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. (QS. Saba: 15-17)


Kemudian renungkanlah kisah Qorun yang diabadikan dalam AI-Qur’an:




Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, "Janganlah
kamu terlalu bangga,’’sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri". (QS. Al Qohoshos:
76
).


Tapi bagaimana kesudahannya?



Bacalah ayat selanjutnya:



Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Alloh. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat)membela (dirinya).
(QS. Al-Qohoshos: 81).


Oleh karena itu, ingatlah bahwa Alloh-lah yang menciptakan kita di
dunia dan memberi kita nikmat agar Dia mengetahui siapakah hambanya yang bersyukur dan kufur.



Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS. Al-’lnsan: 2-3)







Disalin dari Majalah Al-Furqon Edisi 4 Th IV/1425H
Nilai Sebuah Nikmat (2/3) 4.5 5 Abdullah Al Pinrany Thursday, November 26, 2015 Setelah pendahuluan mengenai nikmat, pengertian dan hakikat syukur, pada bagian kedua akan dijelaskan mengenai betapa lembutnya syukur itu ...


Powered by Blogger.