Peluang Amal Jariyah

Peluang Amal Jariyah

Bahaya Fitnah Harta 1

 on Friday, November 20, 2015  



Harta merupakan salah satu fitnah dunia yang paling menonjol. Demi harta, seseorang rela berbuat apa saja asal bisa meraihnya. Tujuan hidupnya, seolah hanya untuk mencapai kesenangan duniawi belaka.

Allah telah mensinyalir orang-orang yang seperti ini dalam surat Hud ayat 15-16 :


Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS Hud : 15, 16).



Dalam masalah ini, Syaikh Al Utsaimin telah membedakan antara riya’ dengan keinginan mendapat dunia. Riya’, ialah seseorang yang beribadah karena ingin dipuji agar dikatakan sebagai ‘abid (ahli ibadah), dan ia tidak menginginkan harta. Adapun keinginan terhadap dunia yang dimaksudkan dalam ayat ini, seseorang beribadah bukan karena ingin dipuji atau dilihat, bahkan sebenarnya ia ikhlas dalam beribadah kepada Allah. Akan tetapi ia ingin mendapatkan sesuatu dari dunia, seperti harta, pangkat, kesehatan, baik pribadi, keluarga maupun anak, dan lain-lain. Jadi dengan amal ibadahnya ia inginkan manfaat dunia dan tidak menginginkan pahala akhirat.




Beliau memberikan contoh-contoh bagaimana seseorang menginginkan dunia dengan amal ibadahnya. Misalnya: menjadi muadzin dengan niat mencari uang. Berangkali haji dengan tujuan mencari kemulian dunia. Belajar agama di perguruan tinggi dengan niat mencari ijasah agar martabatnya naik. Melakukan beberapa jenis peribadahan dengan maksud menyembuhkan penyakit, atau supaya disenangi orang lain atau supaya tidak mendapat gangguan, atau maksud-maksud lain.
1



Karena itu, kita harus berhati-hati, jangan sampai terjatuh ke dalam
syirik niat sebagaimana yang disebutkan dalam surat Hud ayat 15-16 di atas.




Sebuah ironi, bila seorang da’i, ketika berbicara tentang hikmah dan manfaat ibadah, justeru menitikberatkan pada faidah-faidah duniawi. Misalnya, shalat adalah olah raga yang berfaidah menguatkan otot-otot, puasa berfaidah menghilangkan (mengurangi) lemak dan mengatur makan.

Seharusnya kita tidak menjadikan faidah- faidah duniawi sebagai masalah pokok dalam beribadah, karena Allah tidak pernah menyebutkan yang demikian itu di dalam Al Our’an. Akan tetapi Allah menyebutkan bahwa shalat akan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Begitu pula menyebutkan puasa, untuk meningkatkan ketakwaan.




Faidah diniyah dalam ibadah inilah yang menjadi masalah pokok, adapun faidah duniawi merupakan masalah kedua. Sehingga apabila seorang da’i berbicara di depan khalayak umum, maka yang lebih penting ialah menyampaikan atau menyebutkan faidah-faidah diniyahnya saja. Apabila memang diperlukan, barulah disampaikan faidah diniyah dan duniawi. Setiap pembicaraan
ada tempatnya.2.




Dalam Fathul Majid, disebutkan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah ditanya tentang ayat 15 dan 16 surat Hud di atas, lalu beliau menjawab, yang intinya, telah disebutkan oleh para ulama salaf, bahwa di dalam ayat tersebut mengandung penjelasan beragamnya perilaku amal manusia pada zaman ini dan mereka tidak mengerti maksudnya.





  1. Pertama, amal shalih yang dilakukan oleh banyak orang untuk
    mencari ridha Allah, seperti shadaqah, shalat, menyambung tali persaudaraan, berbuat baik kepada manusia, meninggalkan kezhaliman, dan amal-amal lain yang dilakukan atau ditinggalkan manusia karena ikhlas kepada Allah. Akan tetapi, orang yang melakukannya tersebut tidak menginginkan pahalanya di akhirat.




    Dia hanya ingin agar Allah menjaga hartanya dan mengembangkannya, menjaga istri dan anak- anaknya, atau supaya Allah melanggengkan karunia yang diberikan kepadanya. Tidak terpikir olehnya untuk mencari surga dan lari dari neraka. Orang semacam ini diberi ganjaran amalnya di dunia, sedangkan di akhirat tidak ada bagian untuknya. Jenis perbuatan yang pertama ini disebutkan oleh Ibnu Abbas.




  2. Kedua, ini lebih fatal dan lebih dikhawatirkan dari yang
    pertama. Inilah ayat yang disebutkan Mujahid bahwasanya turun berkaitan dengan permasalahan kedua ini. Yaitu seseorang beramal shalih namun niatnya untuk riya’ kepada manusia, tidak untuk mencari pahala akhirat.

  3. Ketiga, seseorang beramal shalih dengan tujuan harta, seperti
    berhaji karena ada harta yang akan ia raih, bukan karena Allah, berhijrah karena dunia yang akan diperolehnya, atau perempuan yang akan dinikahinya, atau berjihad untuk mendapatkan ghanimah. Begitu juga, seseorang yang belajar karena untuk kepentingan sekolah keluarganya, untuk pekerjaan mereka atau kepemimpinan mereka, atau belajar Al-Qur’an dan rajin melakukan shalat karena untuk mencari pekerjaan di masjid seperti yang banyak terjadi sekarang.

  4. Keempat, seseorang mengerjakan ketaatan kepada Allah murni
    hanya untuk Allah saja, akan tetapi dia melakukan perbuatan kufur yang membuatnya keluar dari agama Islam. Misalnya, orang Yahudi dan Nasrani yang menyembah Allah, bersedekah dan berpuasa untuk mencari ridha Allah dan akhirat. Dan seperti banyak orang dari umat ini, yang di antara mereka ada yang berbuat kufur dan syirik besar, sehingga mengeluarkan mereka dari agama Islam secara keseluruhan. Mereka taat kepada Allah dengan rnurni untuk mengharapkan pahala Allah di akhirat, akan tetapi mereka melakukan perbuatan yang mengeluarkan mereka dari Islam dan menyebabkan tidak diterimanya amal. Macam ini juga telah disebutkan dalam penafsiran ayat ini, dari Anas bin Malik dan lainnya.








Catatan Kaki



l Qaul al mufid ‘Ala Kitab at Tauhid, Syaikh Muhammad bin

Shalih al utsaimin. Bab Min Asy syirki Iradatulinsan bi’amalihi ad Dunya II/243 Daar Al ‘Ashimah cet.I - 1415 H. Dengan terjemah bebas dan agak ringkas.
Al Qaulul Mufid, II/245

Bahaya Fitnah Harta 1 4.5 5 Abdullah Al Pinrany Friday, November 20, 2015 Harta merupakan salah satu fitnah dunia yang paling menonjol. Demi harta, seseorang rela berbuat apa saja asal bisa meraihnya. Tujuan...


Powered by Blogger.