Peluang Amal Jariyah

Peluang Amal Jariyah

Masalah KB dan Istihadhoh

 on Thursday, March 5, 2015  


Pertanyaan :
Assalamualaikum wr wb
2 bulan yang lalu saya memasang alat kontrasepsi IUD, dan kemudian terjadi perdarahan hingga sekarang. Setelah dikonsultasikan kepada dokter, Alhamdulillah tidak ada apa2 hanya penyesuaian saja. Yang ingin saya tanyakan :

apakah saya tetap melaksanakan sholat dan boleh membaca Al-Qur'an ?

apakah boleh berhubungan suami istri meskipun terjadi perdarahan?

maaf menyimpang, bagaimana jika ada istri yang berselingkuh kemudian meminta cerai tapi suami tidak mau menceraikan, dalam posisi suami sudah mengetahui istrinya berselingkuh dan suami pernah melakukan kekerasan fisik ?
dari Rahmawati < raxxxxx@gmail.com >

Jawaban :
Wa‘alaikum salam warahmatullah wabarakatuh
Sebelumnya kami mohon maaf atas keterlambatan kami dalam menjawab pertanyaan saudari, hal ini dikarenakan kesibukan kami di dunia nyata. Semoga jawaban berikut bisa bermanfaat bagi saudari dan kaum muslimin secara umum yang ingin mengetahui permasalahan ini.

Dari pertanyaan saudari, kami akan menjawab dalam 4 point :
PERTAMA : HUKUM KB DENGAN ALAT KONTRASEPSI IUD

Secara umum, mengikuti program KB jika dengan tujuan membatasi jumlah anak adalah haram sebagaimana dijelaskan oleh para ulama. Namun jika dikarenakan sakit yang diderita oleh seorang wanita atau dengan tujuan menunda kehamilan dalam rangka mendidik anak agar tidak terlalu dekat jarak kelahiran antara satu anak dengan yang kedua -misalnya-, maka yang seperti ini diperbolehkan dengan dalil bahwa dahulu para sahabat melakukan ‘azl (mengeluarkan air mani diluar farji ketika sedang bersetubuh – red).

Namun seiring dengan perkembangan zaman, banyak ditemukan model dan metode KB. Oleh karena itu, hukumnya pun bermacam-macam, tergantung dari model dan metodenya. Sesuai dengan pertanyaan saudari diatas, maka kita hanya akan bahas hukum KB dengan metode IUD.

Apa itu IUD?
IUD (Intra Uterine Device) atau lebih popular dengan sebutan spiral, adalah sebuah alat kontrasepsi kecil yang ditempatkan dalam rahim wanita, oleh karena itu metode ini juga disebut dengan AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim).

Cara penggunaan alat ini adalah dengan ditanamkan oleh seorang tenaga medis kedalam rahim wanita melalui vaginanya.

AKDR memengaruhi gerakan  dan kelangsungan hidup sperma dalam rahim sehingga mereka tidak dapat mencapai sel telur untuk membuahi. AKDR juga mengubah lapisan rahim (endometrium) sehingga tidak cocok untuk kehamilan dan perkembangan embrio janin. Efektivitas AKDR adalah 98%, hampir sama dengan pil KB. (silahkan rujuk kembali buku-buku kedokteran untuk mengetahui tentang IUD lebih dalam).

Gambar alat kontrasepsi IUD
Gambar alat kontrasepsi IUD
Pelanggaran Syari’at Dalam IUD
Dari penjelasan singkat diatas, kita dapati sebuah pelanggaran syari’at yaitu pada cara pemasangannya. Dimana seorang tenaga medis (dokter atau perawat) akan melihat dan menyingkap aurat wanita (vagina/farji) yang akan dipasangi alat tersebut.

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan, bahwa memandang aurat orang lain dalam rangka pengobatan adalah boleh dengan dua syarat :
Aman dari fitnah

Tidak dilakukan dengan khalwat (berdua saja, tanpa pendamping)
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menambahkan, bahwa permasalahan memandang aurat orang lain haruslah dihindari sebisa mungkin, dan hanya diperbolehkan dalam keadaan terpaksa atau kebutuhan yang mendesak.

Yang menjadi pertanyaan disini, apakah pemasangan IUD tersebut dilakukan dalam rangka pengobatan? Dan apakah pemasangan tersebut dilakukan karena kebutuhan mendesak, yaitu tidak ada cara lain dalam pengobatannya?
Jika jawaban pada pertanyaan pertama adalah iya, maka kita berlanjut pada pertanyaan berikutnya, yaitu apakah harus dengan cara IUD? Jika bisa diselesaikan dengan cara lain yang lebih aman dan lebih menjaga kehormatan seorang muslimah, maka menggunakan IUD dalam hal ini adalah haram.
Namun jika jawaban pada pertanyaan pertama adalah tidak, seperti memasang IUD hanya untuk tujuan menunda kehamilan. Maka memasang IUD dalam kasus ini adalah haram, karena ada banyak cara untuk hal ini, seperti dengan pil KB, atau dengan ‘azl.
Dari sini, hendaklah setiap muslim lebih memperhatikan tentang kehormatan dirinya dan agamanya, serta jangan mudah tertipu oleh rayuan orang-orang yang lemah imannya.
KEDUA : PERMASALAHAN HAID & ISTIHADHOH
Dalam kasus saudari diatas, darah yang keluar tidak disebut sebagai darah haid, karena terjadi diluar kebiasaan dan dengan sebab tertentu, yaitu pemasangan IUD.
Darah yang seperti ini disebut dengan darah istihadhoh.
Darah istihadhoh memiliki hukum yang berbeda dengan darah haid, seorang wanita yang mengalami istihadhoh, boleh membaca al-Qur’an, berpuasa, berdiam diri dimasjid, melakukan jima’, dan tetap wajib shalat.
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Fathimah binti Abi Hubaisy bertanya kepada Nabi shalallahu alaihi wa sallam :
(يا رسول الله إني استحاض فلا أطهر أفأدع الصلاة ؟) ، فقال : (( لاَ ، إِنَّ ذٰلِكَ عِرْقٌ ، لٰكِنْ دَعِي الصَّلاَةَ قَدْرَ اْلأَيَّامِ الَّتِيْ كُنْتِ تَحِيْضِيْنَ فِيْهَا ثُمَّ اغْتَسِلِيْ وَصَلِّيْ ))
“wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mengalami istihadhoh, maka tidak pernah suci, apakah aku harus meninggalkan shalat?”. Beliau menjawab, “tidak, itu adalah darah penyakit. Namun tinggalkan shalat sebanyak hari yang biasanya kamu haidh sebelum itu, kemudian mandilah dan lakukan shalat” [HR. Al-Bukhari].

Dari hadits diatas, kita simpulkan bahwa wanita yang dalam keadaan istihadhoh yang sebelumnya memiliki siklus dan masa haid yang teratur, maka ia menunggu selama masa haid itu. Setelah itu ia mandi dan sholat, meskipun darah pada saat itu masih keluar.
Namun jika seorang wanita yang mengalami istihadhoh tidak memiliki siklus dan masa haid yang teratur, maka yang harus ia lakukan adalah dua hal :

1.    Dilihat dari sifat darah yang keluar, karena darah haid memiliki kekhususan sifat, yaitu kental dan berwarna kehitaman. Jika ditengah masa istihadhohnya ia melihat darah yang seperti itu, maka itu adalah darah haid, dan dilarang baginya sholat. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada Fathimah binti Abi Hubaisy :

إِذَا كَانَ دَمُ الْحَيْضَةِ فَإِنَّهُ أَسْوَدُ يُعْرَفُ ، وَإِذَا كَانَ ذٰلِكَ فَأَمْسِكِيْ عَنِ الصَّلاَةِ ، فَإِذَا كَانَ اْلآخَرُ فَتَوَضَّئِيْ وَصَلِّيْ فَإِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ
“Jika suatu darah itu darah haid, maka itu berwarna hitam diketahui, jika demikian maka tinggalkanlah shalat. Jika selain itu, maka berwudhulah dan lakukanlah sholat, karena itu darah penyakit” [HR. Abu Dawud, An-Nasai dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim]

2.    Jika darah yang keluar tidak dapat dibedakan secara tepat, maka dalam kondisi ini ia harus mengambil kebiasaan wanita pada umumnya, yaitu masa haid antara enam atau tujuh hari setiap bulan, dihitung mulai dari saat pertama kali keluar darah istihadhoh tersebut. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh Hammah binti Jahsy :
يا رسول الله ، إني امرأة أستحاض حيضة كبيرة شديدة ، فما ترى فيها ، قد منعتني الصلاة والصوم ، قال : " أَنَعْتُ لَكِ الْكُرْسُفَ فَإِنَّهُ يُذْهِبُ الدَّمَ " قالت : هو أكثر من ذلك إنما أثج ثجا ، قال رسول الله - صلى الله عليه وآله وسلم - : " سَآمُرُكَ بِأَمْرَيْنِ أَيُّهُمَا فَعَلْتِ أَجْزَأَ عَنْكِ مِنَ اْلآخَرِ ، وَإِنْ قَوِيْتِ عَلَيْهِمَا فَأَنْتِ أَعْلَمُ " قال رسول الله - صلى الله عليه وآله وسلم - : " إِنَّمَا هٰذِهِ رَكْضَةٌ مِنْ رَكَضَاتِ الشَّيْطَانِ ، فَتَحِيْضِيْ سِتَّةَ أَيَّامٍ ، أَوْ سَبْعَةَ أَيَّامٍ فِيْ عِلْمِ اللهِ عز وجل ، ثُمَّ اغْتَسِلِيْ حَتَّى إِذَا رَأَيْتِ أَنَّكِ قَدْ طَهُرْتِ وَاسْتَنْقَأْتِ فَصَلِّيْ ثَلاَثًا وَعِشْرِيْنَ لَيْلَةً ، أَوْ أَرْبَعًا وَعِشْرِيْنَ لَيْلَةً ، وَأَيَّامِهَا وَصُوْمِيْ ، فَإِنَّ ذٰلِكَ يُجْزِئُكِ ، وَكَذٰلِكَ فَافْعَلِيْ كُلَّ شَهْرٍ كَمَا تَحْيْضُ النِّسَاءُ ، وَكَمَا يُطَهِّرْنَ لِمِيْقَاتِ حَيْضِهِنَّ وَطُهْرِهِنَّ ، وَإِنْ قَوِيْتِ عَلَى أَنْ تُؤَخِّرِي الظُّهْرَ ، وَتُعَجِّلِي الْعَصْرَ ، فَتَغْتَسِلِيْنَ وَتَجْمَعِيْنَ بَيْنَ الصَّلاَتَيْنِ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ ، وَتُؤَخِّرِيْنَ الْمَغْرِبَ ، وَتُعَجِّلِيْنَ الْعِشَاءَ ، ثُمَّ تَغْتَسِلِيْنَ وَتَجْمَعِيْنَ بَيْنَ الصَّلاَتَيْنِ فَافْعَلِيْ وَصُوْمِيْ ، إِنْ قَدِرْتِ عَلَى ذٰلِكَ " قال رسول الله - صلى الله عليه وآله وسلم - : " وَهٰذَا أَعْجَبُ اْلأَمْرَيْنِ إِلَيَّ "

“Wahai Rasulullah, sungguh aku sedang mengalami istihadhoh yang deras sekali, lalu bagaimana pendapat engkau tentang itu, karena telah menghalangiku dari shalat dan puasa”.
Beliau menjawab, “aku beritahukan kepadamu, gunakanlah kapas, karena hal itu bisa menyerap darah”.
“namun darahnya lebih banyak dari sekedar itu, dia terus saja mengalir”. Tuturnya.

Beliau menjawab, “jika demikian aku beri kamu dua pilihan, manapun yang kamu pilih itu sudah cukup bagimu. Jika kamu bisa melakukan dua-duanya, itu lebih baik, dan kamu lebih mengetahui tentang kondisimu. Ini adalah salah satu usikan syaithon, maka hitunglah haidmu 6 atau 7 hari menurut ilmu Allah, lalu mandilah sampai kamu merasa lebih bersih dan suci, kemudian shalatlah 23 atau 24 hari dan malam, dan berpuasalah. Yang seperti itu cukup bagimu. Lakukanlah setiap bulan, sebagaimana haidnya wanita normal, dan anggaplah bersih dari haid dengan batasan sebagaimana para wanita lainnya dalam haid dan kesucian mereka. Dan apabila kamu sanggup untuk mengakhirkan waktu sholat dhuhur dan mengawalkan waktu sholat ashar, maka mandilah dan sholatlah dhuhur dan ashar, dan (jika kamu sanggup) untuk mengakhirkan waktu maghrib dan mengawalkan waktu isya’, maka mandilah dan gabunglah antara dua sholat tersebut, lakukanlah dan kamu boleh berpuasa, jika kamu sanggup melaksanakannya, yang kedua ini adalah yang lebih aku sukai”. [HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Al-Hakim].

KETIGA : BERHUBUNGAN BADAN DALAM KEADAAN PENDARAHAN
Boleh bagi seorang wanita yang mengalami istihadhoh untuk melakukan hubungan badan, karena tidak ada keterangan baik dari Al-Qur’an ataupun As-Sunnah yang menyatakan larangannya. Adapun pendapat sebagian ulama yang mengqiyaskan antara istihadhoh dengan haid, hal ini adalah qiyas yang tidak sah karena berbeda antara dua hal tersebut, demikian yang dikatakan oleh Syekh Ibnu Utsaimin.

KEEMPAT : PERCERAIAN, PERSELINGKUHAN DAN KDRT
Pertanyaan saudari yang terakhir ini, insya Allah akan kami jawab dalam tulisan tersendiri.
Semoga Allah senantiasa memberi taufiq kepada kita semua untuk tetap istiqomah menapaki islam yang lurus ini. Amiin.
Wallahu a’lam.
Dijawab oleh : Ust. Aminullah Yasin
Masalah KB dan Istihadhoh 4.5 5 Abdullah Al Pinrany Thursday, March 5, 2015 Pertanyaan : Assalamualaikum wr wb 2 bulan yang lalu saya memasang alat kontrasepsi IUD, d...


Powered by Blogger.