Ikhwan Salafy Gemar Poligami (?)

 on Wednesday, March 4, 2015  


Pertanyaan :
Assalamualaykum warahmatullah wabarakatuh
Ustadz, afwan ana ingin menanyakan terkait dengan kakak yang mewajibkan pernikahan ana dengan seorang salafy, sedangkan rata-rata ikhwan yang bermanhaj salafy berpoligami. Ana belum bisa menerima hal tersebut, dikarenakan ana takut membuat ibu ana menangis apabila melihat ana dengan pernikahan yang dipoligami
Mohon penjelasan mengenai hal tersebut
Syukron, jazakallah khoiran

Jawaban :
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Bersyukurlah ukhti muslimah yang sudah mendapatkan hidayah dan dikaruniani seorang kakak yang mempunyai pengetahuan agama yang benar, dan tidaklah banyak orang yang mendapatkan seperti yang ukhti punya.

Seorang salafy sejati tentunya berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik baik diri dan keluarga dan senantiasa menjaga keluarganya dari hal-hal yang berseberangan atau menyimpang dari ajaran agama. Bolehkah ayah atau wali nikah lainnya memaksa seorang gadis untuk menikah?

Ketika kakak mensyaratkan pernikahan adiknya dengan seorang salafy, maka yang mesti ukhti lakukan adalah bermusyawarah dengan baik dan juga meminta pandangan serta adakan klarifikasi bersama. Kakak ukhti atau siapapun tidaklah memiliki wewenang penuh untuk memaksa ukhti menikah dengan seseorang, ukhtilah yang berhak menentukannya, dan tentunya yang harus ukhti pilih adalah calon suami yang bagus agama dan mulia akhlaknya.

Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah, pernah ditanya tentang bolehkah seorang ayah memaksa putrinya untuk menikah tanpa persetujuan sang putri? Beliau menjawab :

فليس للرجل أن يجبر ابنته البكر أو الثيب على الزواج، كثير من الناس يقع منهم التساهل في هذا الأمر، ولاسيما مع الأبكار، فيقع بذلك نزاع كثير بين الزوجين، وفساد عظيم ودعاوى وخصومات كثيرة، كل هذا بأسباب مخالفة الحق، وعدم القيام بما يجب من الاستئذان، وقد صرح النبي -صلى الله عليه وسلم- في الحديث الصحيح بالنهي عن ذلك، ففي الصحيحين عن النبي -صلى الله عليه وسلم- أنه قال : (لا تنكح البكر حتى تستأذن، ولا تنكح الثيب حتى تستأمر، قالوا: يا رسول الله إن البكر تستحي فكيف إذنها؟ قال أن تسكت) فالبكر إذنها سكوتها.

Seorang ayah tidak boleh memaksa putrinya baik yang masih gadis (perawan) ataupun sudah janda untuk menikah. Begitu banyak kita jumpai orang-orang melakukan kesalahan dalam hal ini, terutama terhadap putri mereka yang masih gadis.

Dan hal tersebut mengakibatkan banyak perselisihan dalam rumah tangga, kerusakan, pengaduan-pengaduan dan bahkan permusuhan. Semua ini karena sebab menyelisihi kebenaran, serta tidak memperhatikan syari’at tentang izin dari sang putri dalam hal ini. Sementara Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam secara tegas meralang hal tersebut, sebagaimana sabda beliau dalam shohihain :
“tidak boleh menikahkan seorang gadis sebelum meminta izin darinya, dan tidak boleh menikahkan seorang janda sebelum dimusyawarahkan dengannya”.
Para sahabat bertanya : Wahai Rasulullah, seorang gadis itu pemalu, maka bagaimana izinnya?
Beliau menjawab : “(izinnya) dengan diam”
Izin seorang gadis adalah dengan diam.
Beliau (Syekh Bin Baz) juga mengatakan :
أما بقية الأولياء فمن باب أولى، الأخ، الابن، العم، من باب أولى، ليس لهم أن تزوج أي امرأة إلا بإذنها سواءً كانت بكراً أم ثيبا،
Adapun wali-wali lainnya, seperti kakak, anak dan paman, maka lebih tidak berhak lagi untuk memaksa seorang wanita menikah, sebelum ada izin dari wanita tersebut, baik itu seorang gadis ataupun janda.

Sumber [http://www.binbaz.org.sa/mat/19383]
Ketika ukhti memilih seorang pria yang akan ukhti jadikan pendamping hidup maka pria yang bertakwa itulah pilihan terbaik dan seyogyanya seorang salafy sejati memiliki kriteria sepeti itu.

Siapakah Salafy itu?
Seorang salafy bukanlah seorang yang telah mengaji pada ustadz fulan ataupun fulan, bukan pula seorang yang gemar menukil dari syekh fulan ataupun fulan. Namun seorang salafy adalah yang mengamalkan agama Islam sesuai petunjuk Allah dan RasulNya dengan pemahaman as-salafus sholih.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Dan orang – orang terdahulu yang pertama-tama (masuk islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar, serta yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah“ (At Taubah 100)

Maka sebuah kenikmatan yang besar jika ukhti mendapatkan seorang suami yang salafy. Pernah seorang datang kepada al Hasan al Bashri seraya berkata, “wahai imam, sesungguhnya aku mempunyai seorang putri, lantas kepada siapa aku menikahkannya??”

Beliau menjawab, “Nikahkanlah putrimu dengan orang yang bertakwa, lantaran jika dia menahannya ia akan berlaku baik kepadanya dan bila melepasnya ia tidak mendzaliminya”.

Salafy gemar poligami?
Adapun alasan menolak menikah dengan pria salafy karena takut dipoligami adalah asumsi yang tidak benar. Karena seorang suami yang salafy tentunya akan berusaha membina rumah tangga dengan baik dan sesuai tuntunan syariat, dia akan memuliakan istrinya dan menghindar dari berbuat sewenang-wenang terhadap pasangannya.
Dan tidaklah kami mengatakan bahwa indikasi kebaikan sebuah pernikahan terletak pada poligami, sebagaimana kami tidak mengatakan bahwa poligami adalah sesuatu yang buruk dan menyeramkan.

Poligami adalah salah satu syari’at Islam yang memiliki banyak hikmah dan manfa’at dalam kehidupan manusia. Poligami juga dapat kita artikan sebagai ‘ujian’ bagi kaum muslimin tentang keharusan menerimanya sebagai salah satu bagian dari syari’at islam yang sempurna ini.

Allah ta’ala berfirman :
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. [An-Nisaa : 3]

Dan kami menasehati kepada segenap muslimah yang bertakwa dan memegang teguh ajaran agamanya, untuk tidak menjadikan poligami sebagai sebuah ‘momok’ dalam pernikahan, juga kami nasehati segenap muslimin untuk tidak menjadikan poligami sebagai sumber petaka dalam rumah tangga kaum muslimin. Membenci poligami bukanlah tindakan hikmah, dan menjadikan poligami sebagai isu sentral dalam kehidupan berumahtangga kaum muslimin juga bukan tindakan hikmah.

Semoga Allah memudahkan urusan kita semua. Wallahu a’lam.
Dijawab oleh : Ust. Muh Rizal Syahidin, Lc & Ust. Aminullah Yasin  dari : http://korpsmuballighsalafy.com
Ikhwan Salafy Gemar Poligami (?) 4.5 5 Abdullah Al Pinrany Wednesday, March 4, 2015 Pertanyaan : Assalamualaykum warahmatullah wabarakatuh Ustadz, afwan ana ingin menanyakan terkait dengan kakak yang mewajibkan per...


Powered by Blogger.