Peluang Amal Jariyah

Peluang Amal Jariyah

Bagi Penuntut Ilmu Hadits

 on Friday, March 6, 2015  



Wahai penuntut ilmu hadits, anda tidak berhak menghukumi status sebuah hadits sementara anda belum menguasai ilmu ‘ilal, walaupun anda telah menguasai berbagai cabang ilmu hadits yang lain.
(Mengapa?)

(Karena) ilmu ‘ilal sangat menentukan kesimpulan hukum suatu hadits yang diperoleh berdasarkan ilmu jarh wat ta’dil, penguraian sanad, dan berbagai cabangnya.

Betapa banyak hadits yang ma’lul (cacat), rijal-nya adalah para perawi yang tsiqqaat (kredibel), bahkan terkadang diriwayatkan dengan ashahhil asanid (sanad-sanad yang tershahih), namun berbagai sanad yang banyak tersebut justru berstatus wahm.

Betapa banyak hadits yang para perawinya memiliki kualitas keagamaan yang tidak seberapa, tidak berstatus tsiqqaat, bahkan ada diantara mereka perawi yang berstatus dha’if, namun para imam kritikus hadits malah menyatakan bahwa hadits tersebut shahih.

Betapa banyak hadits yang memiliki para perawi yang dicela dan sanadnya terputus, akan tetapi para imam sepakat menerimanya dan dijadikan sandaran oleh para ulama yang mumpuni, bahkan sebagian dari mereka menjadikan hadits tersebut sebagai dalil pokok dalam suatu permasalahan yang menjadi induk dari berbagai permasalahan furu’.

Betapa banyak perawi yang dinilai dha’if namun meriwayatkan berbagai hadits berstatus shahih karena telah meriwayatkannya dengan dhabt [untuk melihat pengertian dhabt lihat disini].

Betapa banyak perawi tsiqqaat yang memiliki berbagai hadits dengan status lemah bahkan mungkar karena dia meriwayatkannya dengan keliru dan tidak seksama.

Betapa banyak hadits mursal yang dishahihkan oleh para ulama, dan betapa banyak hadits muttashil (sanadnya bersambung kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) justru ditolak oleh mereka.

Apakah anda tahu bahwa kitab tarajim munqathi’ah (biografi para perawi munqathi’) yang dinilai sah oleh para ulama kritikus hadits dan segala yang dikutip dari kitab tersebut dishahihkan oleh mereka ada sekitar 30-an kitab?

Betapa banyak hadits shahih yang telah dinasakh, dan apakah anda tahu bahwa nasakh merupakan salah satu ‘ilal (cacat) bagi matan hadits?!

Betapa banyak hadits mu’an’an dari perawi mudallis yang diterima oleh para ulama hadits, dan betapa banyak hadits yang disampaikan dengan shighat jazm, -seperti dengan lafadz akhbarana atau sami’na-, tapi dinilai palsu oleh mereka.


Perhatikanlah berbagai hukum yang ditetapkan oleh para imam kritikus hadits yang terdahulu terhadap berbagai hadits!

Saya tidak melihat bahwa mereka menetapkan hukum tersebut berdasarkan uraian sanad dan kondisi zhahir para perawinya semata.

Saya tidak melihat bahwa mereka hanya berpatokan pada “kebersihan sanad secara lahiriah” dalam menghukumi status sebuah hadits.

Sesungguhnya yang menjadi kebiasaan mereka adalah ilmu ‘ilal, mereka berkutat di atasnya, mereka meneliti rahasianya, menekuninya, dan berbangga akan kepakaran mereka dalam ilmu tersebut.



Setiap mujtahid akan mendapat pahala atas ijtihad yang dilakukannya, jika benar dia akan memperoleh dua pahala, jika keliru maka satu pahala untuknya. Akan tetapi, anda sekarang layaknya seorang muhaddits, telah dipercaya untuk menjaga sunnah (hadits-hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) agar tidak terinfiltrasi berbagai riwayat yang tidak jelas keabsahannya. Sehingga,

Saya memandang tidak ada udzur bagimu ketika engkau menshahihkan sebuah hadits semata-mata bertopang pada kondisi sanad secara lahiriah.

Saya memandang tidak ada udzur bagimu ketika mengomentari sebuah hadits dengan perkataan “sanad hadits ini shahih”, sementara engkau tidak menggunakan ilmu ‘ilal ketika membangun komentar tersebut.

Atau, engkau menshahihkan hadits semata-mata karena melihat para perawinya adalah perawi yang tsiqqaat. Engkau tidak meneliti ‘ilal (cacat) hadits tersebut dengan alasan tidak memiliki waktu untuk meneliti kecacatannya.



Menjaga sunnah (hadits) nabi adalah amanah! Dan menghukumi sebuah riwayat sebagai bagian dari sunnah dan menyatakannya sebagai perkataan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan tingkatan yang tinggi. Saya berpendapat, -wallahu a’lam-, hal itu hanya diperbolehkan bagi mereka yang menguasai ilmu ‘ilal, mereka yang menggunakan ilmu tersebut untuk setiap hadits yang dinilainya.

Terdapat dua metode dalam mengungkap cacat suatu hadits, yaitu:

Secara menyeluruh (komprehensif), yaitu dengan meneliti seluruh ketetapan hukum, penjelasan, dan komentar para imam ahli hadits yang mumpuni seperti Syu’bah, Ats Tsauri, Malik; Al Qaththan; (‘Abdurrahman) Ibnu Mahdi; (Sufyan) Ibnu ‘Uyainah; Ahmad (bin Hambal); (Yahya) Ibnu Ma’in; ‘Ali (Al Madini); Al Bukhari; Ar Raziyain (Abu Hatim Ar Razi dan Ibnu Abi Hatim Ar Razi); Muslim; An Nasaai; At Tirmidzi; (Musa) Ibnu Harun; Ad Daruquthni; ‘Abdul Ghani (Al Maqdishi); dan ulama semisal mereka.

Secara parsial, yaitu dengan mengumpulkan berbagai jalur periwayatan suatu hadits kemudian meneliti kondisi para perawi, dari segi hafalan, kekeliruan yang dilakukan, keabsahan penulisan hadits, jangka waktu mulazamah bersama guru, spesialisasi, banyaknya tadlis, dan lain sebagainya.

Dari kedua metode tersebut, metode pertama merupakan yang terpenting dan lebih layak diperhatikan, bahkan metode itulah yang menjadi tujuan para ulama peneliti hadits.

Wallahu a’lam.

sumber: www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=219354 dengan perantaraan Akh Fandi Satia Engge
Bagi Penuntut Ilmu Hadits 4.5 5 Abdullah Al Pinrany Friday, March 6, 2015 Wahai penuntut ilmu hadits, anda tidak berhak menghukumi status sebuah hadits sementara anda belu...


Powered by Blogger.