Peluang Amal Jariyah

Peluang Amal Jariyah

Jalan Keselamatan

 on Wednesday, February 18, 2015  


Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),
“Barangsiapa menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti selain jalan orang-orang beriman, maka Kami akan membiarkan dia bersama kesesatannya, dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam. Dan sesungguhnya Jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” 
(QS. an-Nisaa’: 115)
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr raḍiyallāhu’anhumā, Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Bani Isra’il berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Adapun umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan,semuanya di neraka kecuali satu golongan saja.” Mereka pun bertanya, “Siapakah golongan itu wahai Rasulullāh?”. Beliau menjawab, “Orang-orang yang mengikuti aku dan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi no. 2641, dinilai ḥasan oleh Syaikh al-Albani)
Dari al-’Irbadh bin Sariyah raḍiyallāhu’anhu, beliau menuturkan,
“Pada suatu hari tatkala Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sholat mengimāmi kami, kemudian beliau menghadap kepada kami. Beliau pun memberikan nasehat kepada kami dengan suatu nasehat yang meneteskan air mata dan membuat hati merasa takut.
Maka, ada seseorang yang berkata, “Wahai Rasulullāh! Seakan-akan ini adalah nasehat seorang yang hendak berpisah. Apakah yang hendak anda pesankan kepada kami?”
Beliau pun bersabda,
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allāh, tetap mendengar dan patuh, meskipun pemimpinmu adalah seorang budak Habasyi. Barangsiapa diantara kalian yang masih hidup sesudahku niscaya akan melihat banyak perselisihan. Oleh sebab itu, berpegang teguhlah kalian dengan Sunnah/ajaranku dan Sunnah para khalifah yang lurus lagi mendapat hidayah. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian! Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap ajaran yang diada-adakan itu bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abū Dāwūd no. 4607, dinilai ṣaḥīḥ oleh Syaikh al-Albani)
Imām Abū Ja’far aṭ-Ṭahawi raḥimahullāh berkata, “Kami mengikuti Sunnah dan Jama’ah, dan kami menjauhi ajaran-ajaran yang nyleneh, perselisihan, dan perpecahan.” (lihat al-’Aqidah ath-Thahawiyahhasyiyah Syaikh Muhammad bin Mani’ dan ta’liq Syaikh Bin Baz, hal. 69 cet. Adhwa’ as-Salaf, dan al-Minhah al-Ilahiyah, hlm. 347).
Sunnah adalah jalan Rasul ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Adapun al-Jama’ah adalahjama’ah kaum muslimin; mereka itu adalah para sahabat, dan para pengikut setia mereka hingga hari kiamat. Mengikuti mereka adalah petunjuk, sedangkan menyelisihi mereka adalah kesesatan.” Imām Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi raḥimahullāh berkata, “Sunnah adalah jalan Rasul ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Adapun al-Jama’ah adalah jama’ah kaum muslimin; mereka itu adalah para sahabat, dan para pengikut setia mereka hingga hari kiamat. Mengikuti mereka adalah petunjuk, sedangkan menyelisihi mereka adalah kesesatan.” (lihat Syarḥ al-’Aqidah aṭ-Ṭahawiyahtakhrij Syaikh al-Albani, hal. 382 cet. al-Maktab al-Islami)
Dari Abū Musa al-Asy’ari raḍiyallāhu’anhu, Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bintang-bintang adalah penjaga bagi langit. Apabila bintang-bintang itu lenyap maka akan menimpa langit apa yang dijanjikan atasnya (kehancuran). Aku adalah penjaga bagi para Sahabatku. Apabila aku pergi maka akan menimpa mereka apa yang dijanjikan atas mereka. Para Sahabatku juga menjadi penjaga bagi umatku. Apabila para Sahabatku telah pergi maka akan menimpa umatku apa yang dijanjikan atas mereka.” (HR. Muslim no. 2531)
Dari Hużaifah bin al-Yaman raḍiyallāhu’anhu, beliau berkata,

“Dahulu orang-orang sering bertanya kepada Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena aku khawatir hal itu akan menimpa diriku.
Aku berkata, “Wahai Rasulullāh! Sesungguhnya kami dahulu berada dalam masa jahiliyah dan keburukan, lalu Allāh pun menganugerahkan kepada kami kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?”
Beliau menjawab, “Iya, ada.”
Aku bertanya lagi, “Apakah sesudah keburukan itu masih ada kebaikan?”
Beliau menjawab, “Iya, ada. Akan tetapi ada kekeruhan di dalamnya.”
Aku pun bertanya, “Apakah kekeruhan itu?”
Beliau menjawab, “Yaitu suatu kaum yang mengikuti jalan akan tetapi bukan jalan/Sunnah yang aku tinggalkan, dan mereka mengikuti petunjuk tetapi bukan petunjuk dariku. Kamu bisa mengenali mereka dan mengingkarinya.”
Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan itu masih ada keburukan?”
Beliau menjawab, “Iya, ada. Yaitu para penyeru kepada pintu Jahannam. Barangsiapa yang memenuhi seruan itu maka mereka akan membuatnya terlempar ke dalam neraka.”
Aku berkata, “Wahai Rasulullāh! Jelaskan kepada kami ciri-ciri mereka.”
Beliau menjawab, “Ya. Mereka adalah sekelompok kaum dari kulit bangsa kita dan berbicara dengan bahasa kita.”
Aku bertanya, “Wahai Rasulullāh! Bagaimana menurut anda jika aku mengalami hal itu, apa yang harus aku lakukan?”
Beliau bersabda, “Hendaknya kamu tetap bergabūng dengan jama’ah kaum muslimin dan pemimpin mereka.”
Aku pun berkata, “Kalau ternyata tidak ada jama’ah/persatuan dan tidak ada lagi Imām/pemimpin?”
Beliau menjawab, “Maka tinggalkanlah semua kelompok-kelompok yang ada, meskipun kamu harus menggigit akar pohon sampai kematian menjemputmu dan kamu tetap berada dalam keadaan seperti itu.”
(HR. Bukhari no. 3606 dan Muslim no. 1847)
  • Imām Aḥmad raḥimahullāh mengatakan, “Pokok-pokok Sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan ajaran Sahabat Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, berusaha meneladani mereka, dan meninggalkan bid’ah-bid’ah.” (lihat Da’a'im Minhaj Nubuwwah, hal. 47-48)
  • Imām al-Ajurri raḥimahullāh berkata, “Ciri orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allāh adalah meniti jalan ini; Kitabūllah dan Sunnah Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, serta Sunnah para Sahabatnya raḍiyallāhu’anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Dia mengikuti jalan para Imām kaum muslimin yang ada di setiap negeri sampai para ulama yang terakhir diantara mereka; semisal al-Auza’i, Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas, asy-Syafi’i, Aḥmad bin Hanbal, al-Qasim bin Sallam, dan orang-orang yang berada di atas jalan yang mereka tempuh serta dengan menjauhi setiap madzhab/aliran yang dicela oleh para ulama tersebut.” (lihat Da’a'im Minhaj Nubuwwah, hal. 49)
  • Abdullah bin Mas’ūd raḍiyallāhu’anhu berkata, “Ikutilah tuntunan, dan jangan membuat ajaran-ajaran baru, karena sesungguhnya kalian telah dicukupkan.” Beliau raḍiyallāhu’anhu juga berkata, “Sesungguhnya kami ini hanyalah meneladani, bukan memulai. Kami sekedar mengikuti, dan bukan mengada-adakan sesuatu yang baru. Kami tidak akan tersesat selama kami tetap berpegang teguh dengan aṡar.” (lihat Da’a'im Minhaj Nubuwwah, hal. 46)
  • Ubay bin Ka’ab raḍiyallāhu’anhu berkata, “Hendaknya kalian berpegang dengan jalan yang benar dan mengikuti Sunnah. Karena tidaklah seorang hamba yang tegak di atas jalan yang benar dan setia dengan sunnah, mengingat ar-Rahman dan kemudian kedua matanya meneteskan air mata karena rasa takut kepada Allāh, lantas dia akan disentuh oleh api neraka selama-lamanya. Sesungguhnya bersikap sederhana di atas Sunnah dan kebaikan itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam menyelisihi jalan yang benar dan menentang Sunnah.” (lihat Da’a'im Minhaj Nubuwwah, hal. 46)
  • Muhammad bin Sirin raḥimahullāh berkata, “Para ulama kita dahulu senantiasa mengatakan: Apabila seseorang itu berada di atas aṡar, maka itu artinya dia berada di atas jalan yang benar.” (lihat Da’a'im Minhaj Nubuwwah, hal. 47).
  • Aḥmad bin Sinan al-Qaṭṭan raḥimahullāh berkata, “Tidaklah ada di dunia ini seorang ahli bid’ah kecuali dia pasti membenci ahli hadits. Maka, apabila seorang membuat ajaran bid’ah niscaya akan dicabūt manisnya hadits dari dalam hatinya.” (lihat Da’a'im Minhaj Nubuwwah, hal. 124)
  • Imām al-Barbahari raḥimahullāh berkata, “Ketahuilah -semoga Allāh merahmatimu- sesungguhnya ilmu bukanlah dengan memperbanyak riwayat dan kitab. Sesungguhnya orang yang berilmu adalah yang mengikuti ilmu dan Sunnah, meskipun ilmu dan kitabnya sedikit. Dan barangsiapa yang menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah, maka dia adalah penganut bid’ah, meskipun ilmu dan kitabnya banyak.” (lihat Da’a'im Minhaj Nubuwwah, hal. 163)
  • Imām Abū Hanifah raḥimahullāh berkata, “Hendaknya kamu tetap berpegang dengan atsar dan jalan kaum salaf, dan jauhilah olehmu segala ajaran yang diada-adakan, karena itu adalah bid’ah.” (lihat Falu al-Maqal fi Wujub Ittiba’ as-Salaf al-Kiram, hal. 46).
  • Imām Abul Qasim at-Taimi raḥimahullāh berkata, “Syi’ar Ahlus Sunnahadalah komitmen mereka untuk ittiba’ kepada salafus shalih dan meninggalkan segala ajaran yang bid’ah dan diada-adakan.” (lihat Faṣlu al-Maqal fi Wujub Ittiba’ as-Salaf al-Kiram, hal. 49)
  • Imām al-Aṣbahani raḥimahullāh berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya pemisah antara kita dengan ahli bid’ah adalah dalam masalah akal. Karena sesungguhnya mereka membangun agamanya di atas pemikiran akal semata, dan mereka menjadikan ittiba’ dan atsar harus mengikuti hasil pemikiran mereka. Adapun Ahlus Sunnah, maka mereka mengatakan : pondasi agama adalah ittiba’ sedangkan pemikiran itu mengikutinya. Sebab seandainya asas agama itu adalah pemikiran niscaya umat manusia tidak perlu bimbingan wahyu, tidak butuh kepada para nabi. Kalau memang seperti itu niscaya sia-sialah makna perintah dan larangan. Setiap orang pun akan berbicara dengan seenaknya. Dan kalau seandainya agama itu memang dibangun di atas hasil pemikiran niscaya diperbolehkan bagi orang-orang beriman untuk tidak menerima ajaran apapun kecuali apabila pemikiran (logika) mereka telah bisa menerimanya.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 336). Beliau raḥimahullāh juga berkata, “Kita tidak menentang Sunnah Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan logika. Karena sesungguhnya agama ini diajarkan dengan dasar ketundukan dan kepasrahan. Bukan dengan mengembalikan segala sesuatu kepada logika. Karena hakikat logika yang benar adalah yang membuat orang menerima Sunnah. Adapun logika yang justru membuat orang membatalkan Sunnah, maka sesungguhnya itu adalah kebodohan dan bukan akal/logika yang benar.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 337)
  • Imām ad-Darimi meriwayatkan dalam Sunannya, demikian juga al-Ajurri dalam asy-Syari’ah, dari az-Zuhri raḥimahullāh, beliau berkata, “Para ulama kami dahulu senantiasa mengatakan, “Berpegang teguh dengan Sunnah adalah keselamatan.”.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 340).
  • ‘Umar bin Abdil ‘Azīz raḥimahullāh berkata, “Hendaknya kamu berpegang teguh dengan Sunnah, karena ia -dengan izin Allāh- akan menjaga dirimu.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 341)
Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),
“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allāh meridhai mereka, dan mereka pun meridhai-Nya. Allāh sediakan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. at-Taubah: 100)
  • Imām al-Auza’i raḥimahullāh berkata, “Ilmu yang sebenarnya adalah apa yang datang dari para sahabat Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Ilmu apapun yang tidak berada di atas jalan itu maka pada hakikatnya itu bukanlah ilmu.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 390-391)
artikel: www.pemudamuslim.com
Jalan Keselamatan 4.5 5 Abdullah Al Pinrany Wednesday, February 18, 2015 Allāh  ta’ālā  berfirman (yang artinya), “Barangsiapa menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia  mengikuti selain jal...


Powered by Blogger.