Godaan Setan pada Orang-orang Shalih (1)

 on Friday, December 26, 2014  


Pintu-pintu Godaan Setan
Sesungguhnya tempat-tempat setan bisa masuk melancarkan godaannya sangatlah banyak, sulit untuk membatasinya. Kami akan menyebutkan sebagiannya saja, antara lain:
Pertama: Mengadu domba sesama kaum muslimin dan menyebarkan buruk sangka (suzhzhann) satu sama lain.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim:
"Sesungguhnya Iblis telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang shalih, tapi dia terus mengusahakan adu domba sesama mereka". [HR Muslim/2812 tentang Sifat-sifat kaum Munafiqin, bab "Pengadudombaan Setan dan Pengiriman Balatentaranya untuk menimbulkan fitnah di antara manusia". Diriwayatkan pula dalam Sunan At Tirmidzi tanpa lafazh," ... dan putus asa pula untuk disembah di jazirah Arab", hadits no.1938 tentang Kebaikan dan Perhubungan, Bab hadits-hadits tentang Tabaaghudh (saling membenci)]


Makna hadits tersebut yaitu, setan mengusahakan pertengkaran, friksi-friksi dan fitnah-fitnah. Membuat mereka saling disibukkan agar bermusuhan stu sama lain. Dan di dalam satu riwayat lain, setan itu telah putus asa untuk diibadahi orang-orang di jazirah Arab yang melaksanakan shalat.
Adapun buruk sangka, maka menjadi kebiasaan setan untuk memibsikkannya pada manusia. Diriwayatkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dari Shafiyyah binti Huyay, ummul mukminin (salah seorang istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) yang mengatakan:
Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam beritikaf di masjid, kemudian aku datangi untuk menziarahi di suatu malam. Aku bercakap-cakap dengan beliau, setelah itu aku berdiri hendak pulang. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian berdiri pula untuk menemaniku pulang. Saat itu lewatlah dua orang sahabat dari golongan Anshar --Radhiyallahu 'anhumaa-- yang melihat kami berdua, kemudian mereka berjalan cepat. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Pelankanlah langkah kalian, yang bersamaku ini adalah Shafiyyah binti Huyay". Mereka berdua berkata, "Subhanallah wahai Rasulullah.." (maksud mereka, apakah kami akan buruk sangka padamu?). Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya setan berjalan di tubuh anak Adam pada aliran darah, dan aku takut dia melemparkan bisikan kejahatan dalam hati kalian berdua, sehingga timbul sesuatu dugaan buruk". Hadits Muttafaq 'alaih. [HR Bukhariy (IV/240) tentang Itikaf, Bab "Apakah boleh seorang yang beritikaf keluar untuk keperluan-keperluannya, hingga pintu masjid?". Serta HR MUslim tentang Salam, no 2174-2175]
Seorang lelaki berjalan dengan wanita di waktu malam dapat menimbulkan keraguan dan dugaan buruk, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menghendaki untuk menghilangkan suu-uzhzhann dengan sabda beliau, "Pelankanlah langkah kalian, yang bersamaku ini adalah Shafiyyah binti Huyay".
Oleh karena itu, termasuk suatu kewajiban jika seseorang dalam keadaan yang dapat menimbulkan buruk sangka orang lain untuk menjelaskan pada siapa saja yang melihat atau sehingga hilang kemungkinan buruk sangka tersebut.
Suu-uzhzhann termasuk pintu masuk setan dengan membuat seseorang setiap kali mendengar perkataan lalu ia tafsirkan dengan penafsiran negatif.
Setan pun memecah belah di antara manusia, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Sulayman bin Shard yang mengatakan:
Aku (Sulaiman) duduk bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada saat ada dua orang saling memaki, maka memerahlah wajah salah seorang di antara keduanya (karena marah). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian bersabda, "Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suatu perkataan, yang jika dia ucapkan akan menghilangkan penderitaannya. Kalau dia berkata 'A'uudzu billahi minasysyaythaanir rajiim' akan hilanglah penderitaan yang didapatinya itu". [HR Bukhariy (X/431) tentang Adab, Bab "Waspada terhadap Kemarahan"]
Kedua: Menghiasi bid'ah bagi manusia
Setan mendatangi manusia dengan mengatakan bahwa bid'ah itu sesuatu yang indah seraya mengatakan: "Sesungguhnya manusia di zaman ini sudah meningglkan ibadah dan sulit dikembalikannya. Mengapa kita tidak mengerjakan sebagian peribadahan lalu kita bagus-baguskan dengan tambahan dari kita agar manusia mau kembali beribadah?" Kadang-kadang setan mendatangi dengan cara penambahan terhadap ibadah yang ada dalam Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu berkata, 'Tambahan kebaikan tentu merupakan kebaikan juga. Maka tambahlah dalam sunnah tersebut sutau bentuk ibadah yang mirip dengan Sunnah, atau sandarkan ibadah baru pada Sunnah tersebut".
Sebagian manusia lain didatangi dengan bujukan, 'Sesungguhnya manusia sudah jauh dari dien ini, mengapa tidak kita buat hadits-hsdits yang dapat menakut-nakuti mereka?.. Maka orang-orang mengarang hadits-hadits palsu disandarkan pada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sambail berdalih, 'Kami memang berdusta, namun kami bukan berdusta menentang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melainkan berdusta dalam rangka membela beliau?!'
Mereka berdusta membela Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam??!!! Dikaranglah oleh mereka hadits untuk menakut-nakuti manusia dari naar, memberikan gambarannya pada manusia dengan cara-cara aneh. demikian pula mereka menggambarkan jannah dengan cara aneh yang lain pula!
Kita mengetahui bahwa ibadah itu Tauqifiyyah, yaitu mengambilnya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana petunjuk Allah yang datang pada beliau, tidak boleh kita tambahi atau kurangi atau kita ubah-ubah sekehendak kita. kelakuan seperti yang mereka lakukan itu hanyalah bid'ah dari karangan setan!.


Ketiga: Membesar-besarkan satu aspek atas lainnya.
1. Pada tataran fardy (individual)
- Kadang seseorang terjatuh pada banyak dosa-dosa dan maksiat, namun dia tetap shalat sebagai alasan penutup kekurangannya itu. Dia berdalih bahwa shalat adalah 'imaadud-dien (tiang agama), yang pertama kali dihisab di Hari Perhitungan (Akhirat), maka tidak mengapa kalau dirinya jatuh dalam sebagian maksiat!
Dia menjadikan shalat sebagai sesuatu yang paling agung, untuk menghalalkan kekurangannya dalam ibadah-ibadah lain. dibesar-besarkannya urusan shalat atas lainnya.
Benar bahwa shalat adalah 'imadud-dien, namun bukan keseluruhan kandungan dien ini! Setanlah yang mendatangi orang ini untuk menghalalkan kekurangan dirinya!
- Kadang setan pun mendatangi seorang manusia lain untuk mengatakan, 'Dien ini adalah muamalah (pergaulan/akhlaq yang baik)...Yang paling penting kamu baik terhadap manusia, jangan mendustai atau menipu mereka, walaupun kamu tidak shalat. Bukankah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Dien ini adalah muamalah'?.
- Kadang didatanginya seseorang lain dengan bujukan, 'Yang paling penting adlah berniat baik! Asal aku lalui waktu malamku tanpa menyimpan dengki dan kebencian pada manusia, cukuplah sudah'. akhirnya orang tersebut meninggalkan banyak amal-amal shalih, mencukupkan diri dengan niat baik saja!
- Dari pintu lain setan mendatangi sebagian manusia untuk mengutamakan belajar Al Qur'an, baik qira'ah, maupun tajwidnya. Ia lebih mengutamakan urusan ini atas amal lain, sehingga meninggalkan banyak hal, karena aspek ini sangat dibesar-besarkannya. Padahal tidak diragukan lagi hal ini bukan satu-satunya urusan dalam Islam. Kekeliruan dia bukan dalam memperhatikan perkara tersebut, namun dalam mebesar-besarkannya atas urusan-urusan lain yang penting (mengorbankan urusan-urusan lain).
2. Pada tataran Jama'iy (Komunal)
Tampak jelas masalah ini dalam tataran kelompok ketika kamu lihat segolongan orang berkata:
- Hal terpenting adalah kita harus kenal keadaan riil kaum Muslimin, dan keadaan musuh-musuh mereka. Dengan demikian hal paling penting adalah masalah-masalah politis. Kita hidup di zaman kiwari, bukan di zaman para sufi!
Demikianlah pendukung kelompok ini mengetahui segala hal tentang Komunisme, Sekulerisme, Free Mansory, Bahaiah, Qadiyaniah, dll; kemudian jika kamu tanya tentang Islam, mereka tidak faham sedikitpun!
- Sebaliknya dari kelompok tadi, ada kelompok yang membesar-besarkan masalah peribadatan. Mereka berpendapat, 'Hal terpenting adalah hubunganmu kepada Allah, yaitu shalat. Kamu pun harus zuhud dn bertaqwa. Lemparkan semua urusan lain, selain aspek-aspek keruhanianmu!
- Datang pula kelompok lain, yang benar-benar ada dalam medan dakwah Islam sekarang, dengan pendapat, 'Hal paling penting adalah menyatukan barisan kaum Muslimin. Allah berfirman:
"Dan berpeganglah kepada tali (agama) Allah, secara bersama-sama, dan janganlah kalian bercerai berai". (QS Ali 'Imran : 103)
Mereka menjadikan persatuan hal yang paling penting walaupun dibandingkan masalah aqidah! Mereka berbicara pada manusia yang beraqidah menyelisihi aqidah kita...mengklaim bahwa kita harus bersatu, karena sekarang berada di zaman berkuasanya musuh-musuh atas kita! MEmang benar kita harus bersatu, namun persatuan di atas asas-asas, bersatu di atas dien. Bukan bersatu dalam kekacauan dan perbedaan aqidah.
- Oleh karena itu haruslah ada Tawazun (keseimbangan) dalam seluruh perkara yang dibesar-besarkan sebagian oleh kelompok-kelompok tadi, serta pada perkara-perkara lain dalam dien. Mengapa? Karena pintu masuk setan baisanya dengan membesar-besarkan satu aspek atas lainnya!
Bersambung -- Insya Allah --
[Maraji' : Madaakhilusy Syaithaan 'ala Ash Shalihin, oleh Dr Abdullah Al Khaathir dalam edisi Indonesia Godaan Setan pada Orang-orang Shalih terbitan At Tibyan]
Godaan Setan pada Orang-orang Shalih (1) 4.5 5 Abdullah Al Pinrany Friday, December 26, 2014 Pintu-pintu Godaan Setan Sesungguhnya tempat-tempat setan bisa masuk melancarkan godaannya sangatlah banyak, sulit untuk membatasin...


Powered by Blogger.