Catatan hal-hal menarik dalam hidup

Blog Popular

03 Agustus, 2012

Nuzulul Qur’an, Malam 1000 Bulan

By on 09.11

Muslim di seluruh dunia kini akan memasuki fase paling bersejarah dalam Islam, khususnya di bulan Ramadhan, yaitu malam turunnya Alqur’an atau yang biasa disebut Nuzulul Qur’an atau lebih populer dikenal dengan Lailatul Qadr. Malam ini dalam keyakinan umat Islam, menjajikan pahala yang begitu besar jika ibadah diterima oleh Allah Swt.
Kata “qadr” mengandung banyak arti. Namun secara etimologi atau istilah “qadr” diartikan sebagai takdir atau kepastian alias ketentuan. Ada juga mengasosiasikannya dengan kata “tadbir” yang perenungan. Bisa juga berarti “qimmah” artinya supremasi atau maqam alias posisi. Kedua makna terakhir yang setidaknya bisa mendeskripsikan dahsyatnya malam Lailatul Qadr.
Yaitu sebuah peristiwa maha fenomenal dimana Alqur’an sebagai wahyu dan risalah, diturunkan ke bumi. Tak ada satupun yang lebih besar dan lebih hebat dari malam itu. Tak ada sesuatupun yang bisa menunjukkan keagungan Tuhan pada diri seorang hamba. Malam itu diyakini sebagai malam yang diliputi oleh kemuliaan hingga terbitnya fajar. Rais Syuriah PB NU, AGH Muh Sanusi Baco Lc, menerangkan, Lailatul Qadr atau yang disebut Nuzulul Quran, merupakan malam diturunkannya Alquran kepada Nabi Muhammad Saw untuk menjadi “hudan” atau petunjuk bagi umat manusia dan secara khusus menjadi petunjuk bagi orang-orang ang bertakwa.


Menurut Sanusi Baco, ulama tafsir membagi petunjuk menjadi dua jenis. Yaitu petunjuk yang bersifat umum dan petunjuk yang bersifat khusus. Petunjuk umum adalah petunjuk yang diberikan Allah kepada seluruh hambanya tentang perintah agama. Misalnya perintah menjalankan salat lima waktu itu hukumnyawajib.
Tetapi belum tentu mereka menjalankannya. Yang menjalankannya itulah, kata dia, yang mendapatkan petunjuk khusus.
“Petunjuk khusus adalah petunjuk yang diberikan Allah kepada hambanya dan diberi kemampuan untuk melaksanakan apa yang dikatakan dari petunjuk itu,” terang Sanusi Baco kepada Fajar, Rabu, 25 Agustus.
Prof Dr HM Ghalib Muttala MA, menjelaskan, dalil yang melandasi Laitul Qadr adalah QS al-Qadr yang terdiri atas lima ayat. Di ayat kedua surah tersebut, kata dia, manusia ditanya mengenai Lailatul Qadr tersebut.
Pertanyaan itu diberikan kemudian dijawab sendiri oleh Allah karena, terang Ghalib, manusia tidak pernah bisa memberikan jawaban setiap ditanya dengan pertanyaan “wamaa ad’raka” yang berarti apakah kamu mengetahui.
Menurut Ghalib, pertanyaan itu dijawab sendiri oleh Tuhan karena manusia tidak bisa mendeskripsikan seperti apa Lailatul Qadr itu. “Lalu Allah menjelaskan bahwa Laitatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan karena manusia sendiri tidak bisa menjawabnya,” terang Ghalib, saat membawakan pengajian salat Zuhur di Masjid Al Markaz, Rabu 25 Agustus, kemarin.
Pada malam itu, lanjutnya, malaikat-malaikat turun ke bumi. Keutamaannya karena ibadah yang terterima pada malam itu lebih baik dari seribu bulan.
Menurut Ghalib, karena usia umat Nabi Muhammad Saw pendek, hanya sekitar 60 tahun, maka kemuliaan yang diberikan adalah Lailatul Qadr karena tidak bisa beribadah selama 80 tahun lebih. Artinya kendati usia umat Islam sat ini hanya 60 tahun, tetapi dengan adanya Lailatul Qadr, mereka bisa mendapatkan kemuliaan setara dengan ibadah 80 tahun lebih.
Untuk mendapatkan malam tersebut, kata Ghalib, harus dengan ibadah integral selama Ramadan. Bukan hanya rajin beribadah di malam 17 Ramadan atau malam-malam terakhirnya. Malah, ibadah dianjurkan semakin ditingkatkan di malam-malam terakhir. “Lailatul Qadrhanya akan bisa diraih oleh mereka yang meniatkan diri untuk menanti kedatangannya,” terangnya lagi.
Orang yang mendapatkan Lailatul Qadr, lanjutnya, akan mendapatkan keselamatan dan ketenteraman sampai terbitnya fajar. Orang tersebut bukan hanya memeroleh kedamian dan keselamatan di dunia, tetapi juga diakhirat sebagai tempat yang hakiki.
Untuk mendapatkannya sendiri, umat Islam diimbau berdoa supaya bisa sampai di malam itu. “Mestinya kita berbondong-bondong ke masjid untuk beribadah di akhir-akhir Ramadan. Saling mengajak teman,” katanya.
Terkait adanya beberapa keterangan yang mengatakan bahwa Lailatul Qadr memiliki tanda-tanda khusus, Ghalib tidak menolaknya. Namun, kata dia, ulama mepertanyakan kesahihan dalil. Meskipun ada yang menyebutkan tanda-tandanya, namun hal itu tidak sepenuhnya benar.
Tanda-tanda itu, misalnya, kata dia, adanya keterangan yang mengatakan air membeku sat malam itu datang. Jika itu terjadi, maka umat akan fokus menunggu sampai air membeku, sementara mengabaikan ibadah kepada Allah.
Menurut Ghalib, umat sebaiknya hanya fokus melaksanakan ibadah. Karena informasi tentang tanda-tanda itu, katanya, tidak begitu kuat. Yang jelas malam itu diliputi oleh kedamaian ketenteraman. Hati diliputi perasaan ketenangan.
Sikap orang yang mendapatkannya juga semakin mantap dan semakin baik kepribadiannya. “Intinya bahwa orang yang mendapatkan Lalitatul Qadr adalah mereka yang mendapatkan ketenangan batin,” tutupnya.
Courtesy : Bang Iwan dan Metrolisa

Followers