26 October, 2010

Mendidik anak dengan Metode Pembiasaan sejak Kecil

 
Seorang bayi adalah ibarat kaset kosong yang siap digunakan untuk merekam apa saja. Dia bisa digunakan untuk merekam dan menyimpan cacian, umpatan, makian, kemarahan ataupun hal buruk lainnya. Pun demikian bisa kita gunakan untuk merekam kata-kata indah penuh kelembutan, perkataan-perkataan bijak penuh hikmah, senandung kesyukuran, lantunan kalam suci illahi dan hal-hal bermanfaat dan terpuji lainnya. 

Semua itu tergantung pada kita sebagai pihak yang bertugas memberikan hal-hal yang hendak dia rekam. Kitalah sekolah pertama bagi mereka. Seorang anak sendiri dalam proses tumbuh dan kembangnya akan melalui beberapa tahapan pendidikan. Hingga usia 5 tahun, paling tidak seorang anak akan melewati tahapan pendidikan pembiasaan, pengenalan hukum, pengenalan disiplin dan membangun pemahaman dasar dengan pendekatan yang bergerak dari yang bersifat konkret ke abstrak, dari aqidah ke pengenalan hukum dan konstitusi , dari hal-hal pokok ke detil/cabang. 

Diantara pembiasaan yang kita bisa lakukan sejak dini adalah terbiasa disiplin dan mematuhi peraturan sekolah,  terbiasa senyum ramah pada orang,  dan kebiasaan-kebiasaan lain yang menjadi aktivitas keseharian kita. Untuk bisa melakukannya memang mengharuskan kita sebagai orang tua atau guru  harus bisa menjadi teladan pertama dan utama bagi anak. Jadi jika ingin membiasakan siswa kita taat aturan  maka kita pertama harus lebih dulu taat aturan . Yang perlu diingat oleh kita selaku orang tua guru pada waktu melakukan proses pembiasaan ini adalah kedisiplinan atau Ketelatenan. Jangan kadang dilakukan, tapi kadang tidak. Hal itu akan mempersulit kita meraih keberhasilan. 

Kalau kita displin , rasa sulit atau berat hanya akan kita rasakan di awal-awal kita memulai kebiasaan baru tersebut saja, berikutnya akan mengalir dengan jauh lebih mudah. Terkadang, diantara alasan  para orang tua atau guru  kurang bisa disiplin melakukan pembiasaan tersebut adalah rasa malas, merasa tidak ada manfaatnya karena saat itu anak kita belum displin atau masih sering melanggar peraturan di rumah atau sekolah , merasa masih cukup memiliki waktu untuk melakukannya di lain waktu, menunggu anak atau siswa kita lebih besar dan pintar dulu dan beberapa alasan lain yang mungkin lebih karena ketidaktahuan kita akan potensi daya ingat dan juga dengan prinsip ala bisa karena biasa. Maka lihatlah, ketika kita  selalu membiasakan anak atau siswa untuk taat dan disilin pada peraturan  sejak dini  maka ketika ia dewasa , ia akan tumbuh menjadi anak atau siswa  yang sadar  serta taat kepada aturan 


Artikel Terkait:

25 comments:

  1. Bener itu pak, bayi itu bagaikan selembar kertas putih... hmm..pembelajaran sejak dini memngajarkan untuk kebaikan, aga dijauhkan dari yg namanya salah asuhan... hehehe

    ReplyDelete
  2. betul banget
    kalo mau ditempa ya dari kecil (saat anak2 lagi suka banget nurut2i kerjaan orang tua)
    kalo dah gede pikiran mereka sering bebal ^^

    ReplyDelete
  3. Nah, metode ini bagus juga ya :)

    ReplyDelete
  4. yup, mendidik anak mesti sejak dini.

    ReplyDelete
  5. salam kenal mbk...
    metode mendidik sejak kecil memang sanget efisien mbk coz klo dah besar susah di ajarinnya.

    ReplyDelete
  6. betul mas,setuju...mksh ya..ini bisa menjadi acuan saya untuk terus belajar menjadi bunda yg baik untuk buah hati saya :)

    ReplyDelete
  7. Saya sangat setuju bahwa mendidik seorang anak harus dimulai sejak dia masih bayi.
    Malah ada juga yang mengatakan bisa dimulai sejak dalam perut ibunya, misalnya dengan mendengarkan lagu2 klasik.

    ReplyDelete
  8. Bayi bisa diibaratkan sebagai superspon. Dia bisa dan mampu menyerap apa saja. Daya serapnya jauh lebih besar dari yg kita bayangkan. Metode paling efektif adalah dengan berdongeng, bercerita, atau dengan dibacakan sesuatu (kisah)..
    Artikelnya bagus Bang;

    ReplyDelete
  9. great motivatiton kanjeng guru,
    maturnuwun..
    kata tetangga yang jadi dosen sosiolog, pendidikan dari calon orang tua bayi dimulai semenjak dia belum dilahirkan, misalnya sekarang saya agak jarang mandi, maka secara tidak langsung telah mendidik calon anak saya untuk tidak rajin mandi (meskipun sekarang masih jomblo he he)

    ReplyDelete
  10. aku setuju Sob.... dan terima kasih juga fontnya dibikin besar jadi yg baca gak hanya baca judulnya tapi ikutan merenungi tulisannya....

    bener katamu... sebisa mungkin dari kecil anak2 gak boleh diajarin kata2 yg kotor..... aku pernah tuh denger anak dideket rumahku maki2 ibunya dan bilang "anjing lu".... karena dibentak si ibu.. dan parahnya si ibu cuma diem aja.... padahal anaknya baru 3 tahun....

    pokoknya kata2 dan perilaku kita mesti ikut jadi teladan untuk anak...

    happy blogging n semangat Sob... maaf telat :P

    ReplyDelete
  11. Semuanya butuh pembiasaan. Apalagi dala pembentukan karakter dan kepribadian. masa anak-anak adalah masa yang paling tepat memulai itu.

    ReplyDelete
  12. pernah ikutan seminar dengan mahasiswa senior bang, gak usah mengecam para pemimpin yang sekarang, namun didiklah anak2 dan adek2 kita untuk menjadi pemimpin yang bijak kelak dimasa mendatang

    ReplyDelete
  13. Anak rawan mencontoh kita,..
    jadi ajarilah yang baik baik.
    Terimakasih P.Munir

    ReplyDelete
  14. Anak lebih mudah meniru apa yang di lakukan oleh orng tuanya dan orang terdekatnya, faktor duplikasi sangatlah dominan dari hasil prilaku anak dari orang disekitarnya.

    Dengan mengatasi permasalahan yang kecil; maka, kita dapat mengatasi permasalahan yang besar.

    Sukses selalu.

    Salam ~~~ "Ejawantha's Blog"

    ReplyDelete
  15. jika terbiasa berbuat jahat, kesehariannya jahat
    jika biasa dengan kebaikan, baik kesehariannya

    salam human. hahaha

    ReplyDelete
  16. Setuju 100 % sob.. seyogyanya sejak dini anak2 itu dah di tanamkan kebiasaan yang baik2.

    ReplyDelete
  17. Dah lama gak mampir nih.. postingannya makin ok aja.. n I like it..

    ReplyDelete
  18. ya, metode pembiasaan sudah terbukti bagus, tapi kontrol tetap perlu karena seperti kata pepatah: ada udang di balik batu yang bisa membuat kita salah sangka kalau ada udang di balik batu yang bisa ditangkap. hihihi nglantur ya?

    ReplyDelete
  19. Baiklah mumpung kedua anakku masih kecil2 memang muncul guilty feeling tatkala kita berbuat yang tidak semestinya di depan anak kita. seperti: bertengkar dengan istri di depan anak. Perlu kedisiplinan untuk mengubahnya...terima kasih artikel-nya.Bagus.

    ReplyDelete
  20. tips'nya blh neh.. thx bro, slm sahabat.

    ReplyDelete
  21. betul sekali, pembiasaan adalah proses terbaik untuk mendidik anak-anak ....

    ReplyDelete
  22. mendidik anak akan lebih berhasil apabila diiringi dengan contoh/perbuatan nyata secara konsisten.

    ReplyDelete
  23. semakin biasa anak-anak dilatih maka akan mudah melakukan sesuatu di kemudian hari nanti

    ReplyDelete
  24. dedew dgrenser23 April 2012 11:52

    i like it,,,

    ReplyDelete

Just make a comment Buddy

Denaihati l Hidupkan Untuk Memberi